Senin, 09 November 2015

La Nina dan Dinamika Penyakit Menular di Indonesia



Kemarau panjang dan kekeringan tahun 2015 ini telah  memicu kebakaran hutan dan bencana asap di Sumatera dan Kalimantan. Kata para ahli,  itu semua karena  dampak dari El Nino. Para ilmuwan juga menyatakan bahwa 75% El Nino  akan diikuti oleh La Nina,  yang juga dapat memicu bencana dahsyat. Dalam catatan di Indonesia, telah terjadi 8 kali La Nina, yaitu tahun 1950, 1955, 1970, 1973, 1975, 1988, 1995 dan 1999.

Jika mengacu bahwa setelah  El Nino akan selalu diikuti La Nina, maka Indonesia harus bersiap menyambut datangnya La Nina. Indonesia harus bersiap menghadapi bencana dahsyat  berikutnya. Kedatangan La Nina  dapat menimbulkan petaka di berbagai kawasan khatulistiwa, termasuk Indonesia. Curah hujan berlebihan  dapat menimbulkan banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah di Indonesia. Angin puting beliung ikut melengkapinya. Itulah “Nasib” Indonesia. Lepas dari  bencana satu, datang bencana berikutnya.  Indonesia memang dikenal sebagai hypermart bencana. Artinya semua bencana ada di Indonesia. Tinggal kita, mampukah mengantisipasinya ?.

La Nina datang, dikuti  bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung. Dampak berikutnya adalah persoalan sosial-ekonomi  dan kesehatan. Lazim sebuah bencana, maka bencama akibat La Nina akan menimbulkan banyak korban harta dan manusia bahkan nyawa.  Korban atau pengungsi akibat bencana itu akan mengalami banyak penderitaan. Kelaparan, kedinginan, hidup dan tidur berdesak-desakan, stress, dan gangguan kesehatan  adalah kenyataan yang harus dialami. Ketidak-nyamanan hidup adalah dampak minimal dari La Nina.

Banjir, longsor dan angin ribut dapat menghancurkan beragam sarana dan prasarana ekonomi dan kesehatan.  Sarana air minum dan sanitasi  ikut  rusak, dampaknya layanan sanitasi kesehatan lingkungan nyaris tidak ada. Akibatnya berbilang penyakit menular siap menjangkiti   manusia, utamanya  mereka yang memiliki tingkat kerentanan yang tinggi, yakni anak-anak, ibu hamil/menyusui  dan manula.

Curah hujan yang tinggi dan banjir dipastikan akan mempengaruhi dinamika penyakit menular di Indonesia. Banjir dapat mencemari sumber air minum, yang pada akhirnya akan menyebabkan naiknnya angka kesakitan  penyakit intestinal, penyakit saluran pencernaan  termasuk diare. Banjir juga dapat menyebarkan bakteri Leptospira yang berasal dari kencing tikus penyebab penyakit leptospirosis. Hujan yang berkepanjangan  dapat menurunkan kondisi daya tahan tubuh manusia, akibatnya  mudah terkena penyakit  batuk pilek dan sejenisnya.

Hujan juga dapat menciptakan ekosistem mikro berupa  tampungan air di sampah, kaleng dan kemasan bekas, pelepah pohon, bonggol bamboo, dan lainnya. Ekosistem mikro  ini  dapat menjadi tempat perindukan bagi nyamuk Aedes sp. Nyamuk ini akan berkembang biak dan pada saatnya  akan menularkan penyakit demam berdarah dan chikungunya. Di tempat yang sama dapat saja terjadi ledakan perkembangbiakan nyamuk  Culex penular penyakit kaki gajah atau filariasis. Jenis nyamuk Anopheles tertentu juga akan berkembang biak, dan pada akhirnya dapat menularkan penyakit malaria.

Beberapa saat setelah banjir surut, dimana-mana terdapat sampah yang menumpuk. Sampah ini merupakan  tempat perindukan yang ideal bagi lalat. Lalat akan berkembang luar biasa besar, dan dapat menularkan penyaki kolera, tifus, disentri, dan panyakit perut lainnya.

Jika kita sudah tahu, La Nina segera hadir dengan beragam bencana dan persoalan sosial, ekonomi dan kesehatan;  selanjutnya apa yang harus diperbuat. Para pengelola negeri  ini tentu  harus melakukan antisipasi, demikian juga masyarakatnya. Pemerintah harus  melaksanakan  tindakan preventif, mitigasi dan kesiap-siagaan menghadapi bencana. Rencana kontingensi harus dibuat di level kabupaten/kota. Masyarakat  termasuk ormas2 harus patuh terhadap  aturan-aturan pemerintah  untuk menghidari / mengatasi bencana, sambil terus memberikan kritik dan masukan kepada penguasa negeri.

Kendatipun La Nina sering dihubungkan dengan banyaknya bencana banjir dan longsor di Indonesia, sejatinya La Nina juga  memberikan  dampak positif.  Saat terjadi La Nina suhu muka laut di barat Samudera Pasifik hingga Indonesia menghangat. Kondisi ini mendorong ikan tuna dari Pasifik
timur yang dingin bergerak masuk ke kawasan timur Indonesia. Nelayan di wilayah ini akan panen raya ikan tuna. (Sugeng Abdullah (2015))

Tidak ada komentar: