Selasa, 16 Juni 2026

Plasma Activated Water (PAW)

 

Plasma Activated Water (PAW) merupakan air yang telah diperlakukan menggunakan plasma sehingga mengandung berbagai ROS (Reaktive Oxygen Species) dan RNS  (Reaktive Nitrogeen Species) .

Komponen utama PAW meliputi:

  • H₂O₂
  • NO₂⁻
  • NO₃⁻
  • O₃
  • •OH

(Kaushik et al., 2021)

PAW memiliki sifat:

  • Antimikroba
  • Oksidatif
  • Relatif stabil

PAW saat ini banyak diteliti untuk:

  • Disinfeksi air
  • Sanitasi pangan
  • Pertanian
  • Pengolahan limbah

Bagaimana cara kerja plasma (menurut anak usia 5 tahun = ELI5, dari gemini AI):

Bayangkan Reaktor Plasma untuk Pengolahan Air ini seperti sebuah "Mesin Petir Ajaib" yang bertugas membersihkan air kotor menjadi air bersih.

Berikut adalah penjelasan sederhananya (ELI5):

1. Air Kotor Masuk (Inlet Air Limbah)

Pertama-tama, air yang penuh dengan kotoran, kuman, atau zat kimia berbahaya (air limbah) dimasukkan ke dalam tangki khusus di dalam mesin ini.

2. Membuat "Petir" di Dalam Mesin (Sumber Daya & Elektroda)

Mesin ini dihubungkan ke listrik bertegangan sangat tinggi. Di dalam tangki, ada bagian logam bernama Elektroda. Ketika listrik dinyalakan, elektroda ini akan menembakkan percikan listrik yang sangat kuat secara terus-menerus—mirip seperti petir kecil yang menyambar-nyambar di atas permukaan air.

3. Terbentuklah Plasma (Zona Discharge Gas Plasma)

Percikan listrik atau petir kecil tadi mengubah udara di sekitarnya menjadi sesuatu yang disebut Plasma. Plasma adalah wujud zat keempat (selain padat, cair, dan gas) yang sangat panas dan penuh energi. Di dalam zona plasma ini, keajaiban pembersihan dimulai.

4. Pasukan Pembersih Lahir (Generasi Radikal OH & Spesies Reaktif)

Petir plasma tadi memecah molekul udara dan air menjadi komponen-komponen super aktif yang disebut Radikal OH (Hidroksil) dan Ozon (O3). Anggap saja mereka ini seperti "Pasukan Pac-Man" atau "Spons Pembersih Super" yang sangat galak terhadap kotoran.

5. Menghancurkan Musuh (Oksidasi Polutan)

Pasukan Radikal OH dan Ozon tadi langsung menyerang kuman, bakteri, dan zat kimia beracun yang ada di dalam air. Mereka "menggigit" dan menghancurkan polutan tersebut sampai hancur tak tersisa, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang aman seperti air bersih ($H_2O$) dan gas karbon dioksida ($CO_2$) yang biasa kita embuskan saat bernapas.

6. Air Bersih Keluar (Outlet Air Terolah)

Setelah kotorannya dihancurkan oleh pasukan petir plasma, air yang tadinya kotor dan berbahaya kini sudah berubah menjadi air yang bersih, sehat, dan aman untuk dikeluarkan dari mesin.

Singkatnya: Mesin ini menggunakan kekuatan petir buatan (plasma) untuk menciptakan pasukan pembersih alami yang bisa menghancurkan racun dan kuman di dalam air sampai benar-benar hilang!

Minggu, 14 Juni 2026

Zat berbahaya pada pangan instan

 Ki AI pintar menyajikan infografis yang mudah kita fahami, kemudian (semoga) kita bisa menyadari dan menyadarkan kawan atas bahaya apa saja yang kita konsumsi. sbb. :  




















BANDINGKAN DENGAN ZAT BERBAHAYA PADA KAMPANYE ANTI ROKOK





Senin, 08 Juni 2026

a

Odds Rasio E. coli vs Penyakit Perut (Diare)

 Tabel Perbandingan Odds Ratio E. coli dan Diare

PenelitianLokasiPopulasiOdds Ratio (OR)Keterangan
Munawarah et al. (2022)Bantul, Yogyakarta, IndonesiaRumah tangga dengan sumur gali3,1 (95% CI: 1,5–6,2)Risiko diare meningkat >3 kali lipat bila air sumur positif E. coli.
Hansen et al. (2025)Urban IndonesiaRumah tangga dengan septic tank dekat sumur2,8Jarak septic tank & curah hujan berpengaruh pada kontaminasi E. coli.
Murei & Momba (2025)Afrika SelatanKonsumsi air permukaan & sumur2,5–4,0Air dengan E. coli O157:H7 meningkatkan risiko gastrointestinal.
Mills et al. (2025)Jakarta & sekitarnyaSumur dangkal di kawasan padat~3,0Sumur dangkal lebih rentan kontaminasi, meningkatkan risiko diare.

Interpretasi

  • Konsisten: Hampir semua studi menunjukkan OR > 2, artinya risiko diare dua kali lipat atau lebih bila air sumur positif E. coli.
  • Variasi: Nilai OR berbeda tergantung kondisi lokal (kedalaman sumur, jarak septic tank, curah hujan, kepadatan penduduk).
  • Implikasi kesehatan: Air dengan E. coli tidak layak dikonsumsi tanpa pengolahan (perebusan, klorinasi, atau filtrasi).

Referensi

  1. Novita Husnul Munawarah, Rizki Amalia, Achmad Husein, Siti Hani Istiqomah. (2022). Analisis Spasial Sebaran Kejadian Kasus Diare dengan Keberadaan E. Coli Pada Air Sumur dan Kepadatan Penduduk di Kalurahan Tirtonirmolo. Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol. 15 No. 2. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. DOI: https://doi.org/10.29238/sanitasi.v15i2.1384
  2. Hansen, P., Zahra, Z., Foster, T., Priadi, C., & Willetts, J. (2025). On-site sanitation systems and fecal contamination in shallow groundwater in urban Indonesia: assessing influence of distance and rainfall variables. Water Research, Vol. 287, Part B, 124431. Elsevier. DOI: https://doi.org/10.1016/j.watres.2025.124431 (doi.org in Bing)
  3. Arinao Murei & Maggy Ndombo Benteke Momba. (2025). Identification, Comparison, and Profiling of Selected Diarrhoeagenic Pathogens from Diverse Water Sources and Human and Animal Faeces Using Whole-Genome Sequencing. Microorganisms, Vol. 13(6), 1373. MDPI. DOI: https://doi.org/10.3390/microorganisms13061373
  4. Mills, F., Maysarah, S., Priadi, C. R., Willetts, J., Evans, B., & Foster, T. (2025). Risk factors for well contamination in urban Indonesia: evidence to inform siting of wells and sanitation systems. Journal of Water and Health, 23(12), 1415–1429. IWA Publishing. DOI: https://doi.org/10.2166/wh.2025.036


Fenomena Sanitasi OK tapi E. coli positif - La Kok Iso ?

 La Kok Iso ?

Air sumur gali bisa tetap positif E. coli meskipun secara fisik memenuhi syarat sanitasi karena kontaminasi mikrobiologis sering terjadi lewat faktor lingkungan yang tidak terlihat, seperti perembesan dari septic tank, kandang ternak, atau infiltrasi air hujan yang membawa kotoran ke dalam akuifer. Dengan kata lain, indikator sanitasi visual tidak selalu menjamin bebas bakteri, sebab E. coli adalah penanda pencemaran tinja yang dapat menyusup melalui jalur bawah tanah atau konstruksi sumur yang kurang rapat.


Mengapa E. coli Bisa Muncul Meski Sanitasi Sumur Memenuhi Syarat?

  • Perembesan septic tank
    Walau jarak septic tank sudah sesuai standar, kondisi tanah berpasir atau permeabel dapat mempercepat migrasi bakteri ke air tanah. Penelitian menunjukkan jarak septic tank yang tidak ideal sangat berhubungan dengan keberadaan E. coli.

  • Konstruksi sumur gali
    Bibir sumur, dinding, dan lantai yang retak atau tidak diplester rapat memungkinkan air permukaan masuk. Air hujan yang membawa kotoran hewan atau limbah domestik bisa langsung merembes ke dalam sumur.

  • Kedalaman air tanah
    Air tanah dangkal lebih rentan tercemar. Studi di Indonesia menemukan bahwa sumur dengan kedalaman <2 m lebih sering positif E. coli dibanding sumur yang lebih dalam.

  • Faktor lingkungan sekitar
    Keberadaan kandang ternak, penumpukan sampah, atau aktivitas mencuci/mandi di dekat sumur meningkatkan risiko kontaminasi.

  • Variabilitas musiman
    Pada musim hujan, infiltrasi air permukaan lebih tinggi sehingga bakteri lebih mudah masuk ke akuifer.


Penjelasan Ilmiah

  • E. coli sebagai indikator: Kehadiran E. coli menandakan adanya pencemaran tinja manusia atau hewan. Jika ditemukan, berarti ada potensi patogen lain (misalnya Salmonella, Shigella, atau virus enterik).
  • Sanitasi fisik ≠ kualitas mikrobiologis: Inspeksi sanitasi hanya menilai aspek visual (jarak, konstruksi, kebersihan sekitar). Namun, bakteri dapat bergerak melalui pori tanah atau retakan yang tidak terlihat.
  • Hydrogeologi berperan besar: Jenis tanah, arah aliran air tanah, dan kedalaman akuifer menentukan seberapa cepat bakteri berpindah dari sumber pencemar ke sumur gali.

Referensi

  1. Hardianti, I., Yustati, E., & Heriyanto, E. (2024). Analisis Faktor yang Mempengaruhi Keberadaan Bakteri Escherichia Coli Pada Sumur Gali. Jurnal Kesehatan Saelmakers PERDANA, Vol. 7 No. 2. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Al Ma’arif Baturaja. https://doi.org/10.32524/jksp.v7i2.1253 (doi.org in Bing)
  2. Nur Azizah, Abdur Rivai, & Rasman. (2023). Faktor Yang Berhubungan Dengan Keberadaan Bakteri Escherichia Coli Pada Air Sumur Gali. Jurnal Sulolipu, Vol. 23 No. 2. Poltekkes Kemenkes Makassar. https://doi.org/10.32382/sulo.v23i2.71
  3. Gebby Hanesti Putri. (2025). Gambaran Tingkat Risiko Pencemaran dan Kualitas Bakteri Escherichia Coli Air Sumur Gali di RW 05 Kelurahan Pakan Labuh Kota Bukittinggi. Poltekkes Kemenkes Padang Repository. http://repositoryperpustakaanpoltekkespadang.site/id/eprint/2688
  4. Hansen, P., Zahra, Z., Foster, T., Priadi, C., & Willetts, J. (2026). Associations between sanitary inspection risk factors and E. coli contamination in household groundwater sources. Journal of Water, Sanitation and Hygiene for Development, 16(1), 36–44. IWA Publishing. https://doi.org/10.2166/washdev.2025.177
  5. Mills, F., Maysarah, S., Priadi, C. R., Willetts, J., Evans, B., & Foster, T. (2025). Risk factors for well contamination in urban Indonesia: evidence to inform siting of wells and sanitation systems. Journal of Water and Health, 23(12), 1415–1429. IWA Publishing. https://doi.org/10.2166/wh.2025.036