Minggu, 15 September 2019

Pengambilan Sampel Air (Bakteriologis)

PENGAMBILAN SAMPEL AIR SECARA MIKROBIOLOGIS


A.          DASAR TEORI

Penggunaan air khususnya air minum dan air bersih dalam kehidupan sehari-hari harus memenuhi syarat-syarat kesehatan, termasuk syarat mikrobiologis. Hal itu dikarenakan bahwa air minum dapat menjadi media pembawa penyakit terutama penyakit perut (gastroenteritris). Air merupakan benda yang mudah tercemar, tidak terkecuali oleh tinja. Untuk mengetahui bahwa sumber air telah tercemar oleh tinja dapat dilakukan dengan cara menguji adanya bakteri Coliform dalam sumber air tersebut. Hal ini karena Coliform merupakan bakteri yang hidup dalam usus manusia dan hewan berdarah panas lainnya yang keluar bersama tinja. Air yang terkontaminasi oleh Coliform menunjukkan bahwa air tersebut telah tercemar oleh tinja dan identik dengan terkontaminasi oleh pathogen yang berada dalam usus menusia dan hewan berdarah panas lainnya.
Untuk menguji kualitas air secara mikrobiologis, tidak perlu menguji semua jasad renik yang ada dalam air tersebut. Pengujian yang dilakukan cukup hanya dengan menguji adanya Coliform saja. Air yang terkontaminasi oleh Coliform menunjukkan bahwa kualitas mikrobiologis air tersebut buruk. Mekanisme pemeriksaan kualitas air bersih atau air minum secara mikrobiologis ada 3 langkah penting yaitu pengambilan sampel yang representative, transport serta pengawetan sampel dan analisis di laboratorium. Maksud dari pengambilan sampel adalah mengumpulkan volume dari suatu sumber air yang akan diteliti dengan jumlah sekecil mungkin, tetapi mewakili (representative) yaitu masih mempunyai sifat-sifat yang sama dengan sumber air bersih tersebut.
Berberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan sampel air secara mikrobiologis adalah sebagai berikut:

1.      Wadah/ Botol Sampel
Pengambilan sampel secara mikrobiologis diperlukan volume sampel air minimal 100 ml. oleh karena itu botol sampel harus berukuran besar dan bermulut lebar, minimal bervolume 200 ml. hal ini dimaksudkan apabila botol diisi dengan 100 ml sampel air, maka masih terdapat rogga atau ruang udara untuk mengocok air sampel air sampel air sebelum dianalisis sehingga penyebara jasad renik dapat merata. Botol sampel harus dalam keadaan steril. Sebelum disteril botol sampel harus ditutup kapas dahulu dan dibungkus dengan dengan kertas paying. Botol kemudian disterul dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121°C, tekanan 1 Atm selama 15 menit. Botol sampel harus disesuaikan dengan sumber air bersih yang akan diambil.
·       Sumur gali, reservoie dan sejenisnya perlu menggunakan botol sampel yang bertali dan pemberat.
·       Sumur pompa, kran/perpipaan : langsung menggunakan wadah/botol sampel tanpa tali dan pemberat
·       Sungai, danau/waduk langsug menggunakan wadah/botol sampel tanpa tali dan pemberat atau bila perlu dapat juga menggunakan botol sampel bertali dan pemberat.

2.      Pengawetan Sampel
Sampel  air yang telah diambil harus segera dibawa dalam keadaan dingin  (diletakan dalam termos es dan diisi dengan pecahan es batu) ke laboratorium untuk segera dianalisis. Apabila sampel air tidak segera dianalisis, maka sampel  boleh disimpan dalam tempat dingin seperti kulkas/refrigerator tetapi sebaiknya tidak lebih dari 24 jam.

3.      Teknik Pengambilan sampel


a.                   Alat
::
1)      Botol sampel steril volume ± 250 ml
2)      Botol sampel steril dengan pemberat volume  ± 250 ml
3)      Bunsen
4)      Tas pembawa sampel


b.                  Bahan
:
5)      Kapas
6)      Alkohol 70%
7)      Korek
8)      Lebel
9)      Kertas pembungkus/ kertas payung



c.                      Cara kerja :
:








1)         Sumur gali, reservoir dan sejenisnya
a)         Aseptiskan tangan dan tempat kerja dengan alcohol 70%
b)         Membuka bungkus kertas dan botol dipegang bagian bawah yang masih ada kertas bungkusnya sehingga tangan tidak bersentuhan dengan botol.
c)         Tali dibuka dan botol diturunkan pelan-pelan sampai mulut botol masuk minimum 10 cm ke dalam air (bila tinggi air memungkinkan)
d)        Setelah terisi penuh, botol diangkat dan isi dibuang 1/3 volume botol sehingga volumenya 2/3 volume botol
e)         Panaskan mulut botol dengan nyala api dan ditutup
f)          Botol yang telah berisi contoh air dibungkus kembali dengan kertas pembungkusnya.
g)         Tulis label

Hal yang harus diperhatikan
·            botol dihindarkan bersentuhan dengan dinding
·            untuk pemeriksaan sisa chlor dan pH, contoh diambil dengan botol bersih lain yang tidak diberi Natrium Thiosulfat

2)         Kran/perpipaan

a)         Aseptiskan tangan dan tempat kerja dengan alcohol 70%
b)         Kran dibuka penuh dan dibiarkan mengalir selama 2 – 3 menit atau dalam waktu yang dianggap cukup untuk membersihkan pipa persil, kemudian ditutup
c)         Kran dipanaskan/ diaseptiskan dengan nyala api/ alcohol
d)        Kran dibuka 1-3 menit kemudian penutup penutup botol dilepas dengan tangan kiri dan botol dipegang dengan tangan kanan.
e)         Botol diisi sampai 2/3 volume botol (lebih besar dari 100 ml)
f)          Panaskan mulut botol dengan nyala api, dan ditutup
g)         Botol yang telah berisi contoh air dibungkus dengan kertas pembungkusnya.
h)         Tulis label.

        Hal-hal yang harus diperhatikan:

·           Air harus jelas dari pipa persil yang dihubungkan langsung dengan pipa induk.
·           Contoh sebaiknya diambil dari kran yang sering dipakai
·           Hindarkan pengambilan contoh air dari alat-alat tambahan yang dipasang pada kran atau dari kran yang bocor
·           Apabila kran kotor, harus dibersihkan lebih dahulu sebelum dilakukan pengambilan contoh.

3)         Sungai
Sampel air yang akan diambil dipilih pada bagian sungai yang mengalir. Bagian sungai yang diam sebaiknya dihindari. Usahakan jangan terlalu di tepi, jangan terlalu pada permukaan air, jangan pada dasar sungai. Mulut botol sampel steril diletakkan horizontal searah dengan arah aliran air. Setelah penuh, botol diangkat, sebagian airnya dibuang. Mulut botol dipanaskan dengan api Bunsen dan segera ditutup.

4.      Label sampel

Untuk menghindari kesalahan dalam analisis, sampel perlu diberi label, seperti:
1)   Nama  dan alamat pengirim sampel
2)      Waktu dan tanggal pengambilan sampel
3)      Jenis sumber air dan tempat pengambilan sampel
4)      Jenis pengolahan air yang dilakukan (kalau ada)
5)      Tanda tangan pengambil sampel.

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengambilan sampel Botol harus tetap tertutup sampai saat diisi dan bagian botol yang berhubungan dengan air dihindari dari kontaminasi.
·         Botol diisi ± 100 ml sampel air sehingga di dalam botol masih tersedia ruang udara untuk mengocok sampel air sebelum dianalisis agar penyebaran jasad renik merata.
·         Hati-hati memegang tutup botol agar tidak terjadi kontaminasi dengan tangan, udara atau benda lainnya.
·         Botol dipegang pada bagian bawah
·         Pengambilan sampel dilakukan secara aseptis.


Selasa, 27 Agustus 2019

Sampah Plastik Untuk Reklamasi Teluk Jakarta


Reklamasi teluk Jakarta telah menuai pro dan kontra dengan argumentasi masing-masing. Belakangan Gubernur Anis Baswedan telah mengijinkan pembangunan di tiga pulau reklamasi.  Tentu dengan setumpuk argumentasi yang disertakan.  Kelak, siapa tahu  Gubernur berikutnya akan mengijinkan (kembali) melakukan reklamasi di Teluk Jakarta.

Reklamasi membutuhkan jutaan meter kubik  tanah atau material urug. Material untuk pengurugan  yang lazim adalah batu, tanah dan pasir. Ini masih konvensional atau mungkin masih konservatif. Setidaknya menurut penulis.  Sesungguhnya masih ada material alternative, yaitu:  sampah.

Jakarta setiap hari membuang sampah 7.500 ton. Ini sudah  dapat dikatakan  Jakarta darurat sampah. Sampah sebanyak itu di buang (di tumpuk) di Bantargebang.  TPA Bantargebang diperkirakan  hanya mampu menampung sampah Jakarta  sampai dengan tahun 2021.  Selanjutnya Sesuai dengan Masterplan Pengelolaan Sampah Provinsi DKI Jakarta tahun 2012-2032, Jakarta  akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau lebih dikenal sebagai Intermediate Treatment Facility (ITF) sebanyak 4 buah di Sunter, Marunda, Cakung, dan Duri Kosambi.  Belum ada alternative  pembuangan sampah yang  out of the box berupa  landfill untuk reklamasi.

ITF atau pengolahan apapun yang saat ini dirancang, pasti tetap akan menyisakan tumpukan eks sampah padat.  Ini artinya masih membutuhkan lahan untuk menampung.  Biaya  instalasi dan operasional juga besar. Bandingkan, misalnya, jika sampah digunakan untuk material urug reklamasi Teluk Jakarta (?).  Nyaris hanya perlu biaya pengangkutan. Biaya pemadatan dan lain-lain  bisa numpang proyek reklamasi. Problem sampah Jakarta teratasi, sekaligus memperoleh  lahan baru dari reklamasi.

Teori pembuangan atau pemusnahan  sampah  diantaranya adalah  open dumping, dumping in water, feeding to hog, combustion, inceneration, land fill, control landfill, sanitary landfill dan energy recovery. Ini artinya pemanfaatan sampah untuk material urug  pada kegiatan reklamasi, memiliki dasar teoritis yang jelas.  Sampah dapat digunakan untuk landfill  (pengurugan) atau control landfill.  Sudah pasti harus dengan persyaratan tertentu.

Persyaratan utama  penggunaaan sampah untuk landfill (baca : reklamasi) adalah pencegahan  terhadap kemungkinan terjadinya pencemaran atau bencana dikemudian hari.  Untuk ini secara teoritis dan teknis tidak terlalu sulit, yakni dengan  cara isolasi  dan stabilisasi.  Mencegah agar lindi (leachete)  tidak mencemari laut,  maka pengurugan dengan sampah  hanya boleh dilakukan ketika pantai pulau reklamasi  sudah jadi. Minimal  selebar 105 meter dari garis  pantai.  Sampah hanya boleh untuk mengisi bagian tengah pulau.

Teknik yang lebih ideal untuk mencegah pencemaran dari sampah adalah  dengan  kapsulasi menggunakan bahan kedap air. Sampah yang sudah  dipadatkan, kemudian  dimasukan kantong-kantong kedap air.  Selanjutnya digunakan untuk pengganti material urug pulau reklamasi. Pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya bencana  akibat penggunaan sampah untuk reklamasi, tentu  harus melibatkan  banyak fihak, diataranya para pakar konstruksi, pakar lingkungan, pakar tata bangunan, pakar hydrologi  dan lainnya.

Purwokerto, 27 Agustus 2019.

Minggu, 23 September 2018

Mengolah Air Limbah Yang Mengandung Sianida dan Hidogen Sulfida (H2S)

Air limbah tertentu sering mengandung sianida dan H2S. Sianida (HCN) sering dijumpai pada air limbah tapioka. Hidrogen Sulfida (H2S) merupakan salah satu gas alam. Gunung meletus dapat mengeluarkan gas H2S. Proses penguraian bahan organik, protein dan lemak  yang bersumber hewan dan tumbuhan oleh mikroorganisme, salah satunya dihasilkan gas H2S.  Danau, sungai, selokan  atau perairan permukaan lainnya  sering tercemar H2S  akibat pencemaran langsung atau dari proses penguraian mikroorganisme.  H2S mudah dikenali dengan bau busuk. Air limbah yang berbau busuk sering diketahui mengandung H2S.  Kentut (flatus) sering mengandung H2S sehingga bau tak sedap. 

Untuk mengolah limbah yang mengandung Sianida atau H2S dapat dilakukan dengan penambahan Hidrogen Peroksida (H2O2). Hidrogen peroksida merupakan bahan kimia yang ramah lingkungan atau environment friendly, karena tidak menghasilkan residu berbahaya pada lingkungan ketika digunakan. Hidrogen peroksida hanya akan terurai menjadi air (H2O) dan oksigen (O2) pada saat digunakan.

Hidrogen peroksida (H2O2), merupakan bahan kimia oksidator, yang banyak digunakan sebagai bleaching agent (pemutih) untuk pulp, kertas, tekstil, kayu dan rotan, untuk de-inking process kertas bekas, bahan pembuatan bahan kimia lain (deterjen, epoxy, dll), untuk metal etching pada industri elektronika, disinfectant pada packaging processwater treatment dan lain-lain

Hidrogen Peroksida juga dipergunakan untuk membersihkan air limbah yang tercemar polusi seperti : Hidrogen Sulfida (H2S), Phenilics, Cyanides, dan unsur lain yang terdapat dalam limbah air. 

Dosis H2O2 untuk pengolahan air limbah ditentukan dengan perhitungan stosiometri atau dengan pendekatan melalui mekanisme jar test.

Kamis, 30 Agustus 2018

Teknologi Daur Ulang Air Bekas Wudhu.


Krisis Air Tak Perlu Tayamum. Gunakan Padasan Daur Ulang. Padasan berasal dari kata pehadasan. Wadah air dilengkapi kran/lubang pancuran yang digunakan untuk bersuci dari hadats. Utamanya  bersuci dari  hadats kecil (wudhu). Padasan banyak terdapat di rumah penduduk pedesaan Jawa yang kental dengan budaya santri. Bentuk padasan bermacam-macan, diantaranya berupa  tempayan, gentong, klenting, drum, ember, ruas bambu, dan wadah lainnya. Wadah tersebut diisi dengan air suci dialirkan melalui lubang pancuran kemudian digunakan untuk wudhu. Artinya setiap berwudhu memerlukan air suci dengan jumlah tertentu.

Belum ada data yang  valid mengenai  Jumlah air yang dibutuhkan setiap orang  untuk  satu kali berwudhu. Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor SNI-03.7065.2005 hanya menyebutkan bahwa untuk keperluan peribadatan diperlukan  5 liter per orang. Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam berwudhu dengan satu mud air dan mandi dengan satu sha’ hingga lima mud air  (Hadits Bukhori &Muslim).   Satu mud air ukurannya  sama dengan  688 ml. Berdasarkan eskperimen penulis, keperluan air untuk nyaman  berwudhu  antara 2-4 liter.

Air bekas wudhu biasanya langsung dibuang.   Jika dihitung  jumlah air bekas wudhu yang dibuang  pada satu  masjid  dengan jamaah 100 orang yang berwudhu (misalnya), maka  akan ada 200 - 400 liter air yang  terbuang untuk satu kali waktu sholat. Bisa diperhitungkan jumlah air bekas wudhu yang dibuang  untuk lima kali waktu sholat,  atau selama satu pekan, dan seterusnya.  Dalam sepekan diperkirakan ada  7.000 – 14.000 liter  setara  1-2 mobil tangki  air yang terbuang. Ketika kondisi krisis air, jumlah   1-2 mobil tangki air menjadi sangat bermakna. Sayang sekali jika harus dibuang, mestinya dapat  digunakan kembali untuk berwudhu. Air bekas wudhu dapat di daur ulang.

Teknologi Daur Ulang Air Bekas Wudhu.

Kunci daur ulang air bekas wudhu adalah menjaga agar air tetap suci dan memenuhi persyaratan kualitas air secara sehat. Agar air tetap suci adalah dengan menjamin air bekas wudhu volumenya lebih dari dua kullah dan  tidak berubah warna, bau dan rasa. Dalam banyak kitab fiqih Islam disebutkan bahwa ukuran volume dua kulah adalah 500 rithl Baghdad (= 446 3/7 rithl Mesir =  81 rithl Syam = 93,75 sho’). Kemudian para ulama kontemporer mencoba mengukurnya dengan besaran zaman sekarang, dan ternyata dalam ukuran masa kini kira-kira sejumlah 270 liter.

Air yang memenuhi persyaratan kualitas kesehatan adalah air  yang memenuhi persyaratan fisik, kimia, bakteriologi dan radioaktivitas. Air yang memenuhi persyaratan fisik adalah  air yang tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa. Air yang memenuhi persyaratan kimia adalah air yang memiliki kandungan kimia dengan kadar tertentu dan tidak membahayakan kesehatan. Air yang memenuhi syarat bakteriologis adalah air yang tidak mengandung kuman penyebab penyakit. Air yang memenuhi syarat radioaktivitas adalah air yang tidak tercemar radiasi zat radioaktiv.

Umumnya kualitas fisik, kimia dan radioaktivitas  air bekas wudhu masih relative baik. Hanya kualitas bakteriologis yang buruk. Dengan demikian pengolahan air bekas wudhu sangat mudah. Teknologi daur ulang air bekas wudhu terbilang sangat sederhana. Air bekas wudhu hanya diolah dengan penyaringan kasar dan mikro (screening dan filtrasi) dan pembunuhan kuman penyakit (desinfeksi).   Untuk keperluan penyaringan mikro dapat digunakan cartride filter, dan untuk desinfeksi dapat digunakan lampu Ultra Violet type C (UV-C). Kedua komponen ini lazim digunakan pada depot air minum isi ulang. Harganya juga sangat terjangkau.

Padasan daur ulang air bekas wudhu dapat dibuat dengan komponen minimal  sebagai berikut : a). penampungan air memiliki volume lebih dari 270 liter; b). mikro screen ; c). cartride filter 10 mikron; d). lampu  UV-C; e). pompa. Prinsip kerja  padasan daur ulang adalah :  air bekas wudhu  dari kran/pancuran disaring dengan saringan kasar, kemudian ditampung dan langsung dipompa menuju cartride filter dan lampu UV-C. Selanjutnya ditampung atau langsung dialirkan menuju  kran/pancuran wudhu. Siap digunakan untuk wudhu kembali. Demikian seterusnya, air terus  di “putar”.  Hanya dengan air  300 liter (misalnya)  dapat digunakan untuk  wudhu ratusan orang, bahkan  berkali-kali “untuk selamanya”. Pemeliharaannya sangat simple, cukup membersihkan saringan, mengganti filter atau lampu UV-C, serta menjaga volume air tetap lebih dari 270 liter.

Teknologi semacam  ini dapat diaplikasikan di semua masjid (utamanya yang sulit air).  Teknologi ini Hemat air, ramah lingkungan, sehat dan tetap syar’i.   Ketika krisis air, kita tidak perlu  tayamun. Tetap dapat berwudhu dengan padasan daur ulang.

Purwokerto, 31 Agustus 2018


Rabu, 11 Juli 2018

Pengambilan Sample Asbes

The use of proper respiratory protection is advisable. When applicable, a plastic drop cloth should also be used. 

1. Locate the sample location and suspected material.

2. Put on the enclosed plastic gloves to avoid contact between your skin and the sample.

3. Completely wet the sample location using a spray bottle with a soap and water solution (one teaspoon of soap per quart of water). The sample location should be kept wet throughout the sampling procedure to prevent the release of airborne fibers.

4. Collect the sample using a razor knife, chisel or another tool capable of securing a sample of the entire matrix. (example: the underlying scratch coat beneath popcorn ceiling, pipe insulation and mastic on seams, vinyl flooring including any additional layers of vinyl and/or mastic.)

5. Place the sample in one of the enclosed sample bags and seal.

6. Completely fill out the information form. (analysis can not be conducted unless you submit all the information requested.)





Pemeriksaan langsung dilapangan dapat menggunakan alat  asbestoprobe. silakan KLIK  http://www.asbestoprobe.com

Definisi Surveilans Kesehatan lingkungan

Definisi Surveilans Kesehatan lingkungan

Surveilans Kesehatan lingkungan adalah :  Suatu proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data secara sistematis, terus menerus dan penyebarluasan informasi kepada pihak terkait untuk melakukan tindakan pencegahan, pengurangan dan/atau peniadaan risiko kesehatan manusia yang berasal dari lingkungan sekitar. Data dimaksud meliputi  informasi tentang (a). penyehatan air & air limbah; (b). penyehatan tanah dan pengelolaan sampah; (c). penyehatan udara; (d). penyehatan makanan; (e). pengendalian vektor; (f). penyehatan sarana dan bangunan

Definisi ini merupakan adaptasi dari beberapa  pendapat para ahli tentang definisi surveilans dalam aspek dan kedalaman kajian yang beragam.  Definisi dimaksud adalah  sebagai berikut :

  • Menurut German (2001), surveilans kesehatan masyarakat (public health surveillance) adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara terus¬ menerus berupa pengumpulan data secara sistematik, analisis dan interpretasi data mengenai suatu peristiwa yang terkait dengan kesehatan untuk digunakan dalam tindakan kesehatan masyarakat dalam upaya mengurangi angka kesakitan dan kematian, dan meningkatkan status kesehatan.
  • Menurut Thacker (2000), surveilans epidemiologi adalah suatu rangkaian yang dilakukan secara terus menerus dan sistematik dalam mengumpul, mengolah, menganalisis dan menginterpretasi data peristiwa kesehatan yang bermutu untuk perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian terhadap upaya pelayanaan kesehatan masyarakat disertai dengan penyebarluasan informasi tersebut kepada pihak lintas terkait.
  • Menurut Abramson (1991), Buehler (1998), Surveilans adalah pengamatan secara terus menerus dan sistematik melalui pengumpulan, analisa, interpretasi dan diseminasi penyampaian informasi status kesehatan, ancaman lingkungan atau faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kesehatan.
  • Menurut WHO surveilans adalah Suatu proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data kesehatan secara sistematis, terus menerus dan penyebarluasan informasi kepada pihak terkait untuk melakukan tindakan.
  • Menurut CDC (Center of Disease Control) surveilans adalah pengumpulan, analisis dan interpretasi data kesehatan secara sistematis dan terus menerus, yang diperlukan untuk perencanaan, implementasi dan evaluasi upaya kesehatan masyarakat, dipadukan dengan diseminasi data secara tepat waktu kepada pihak-pihak yang perlu mengetahuinya.

Senin, 02 April 2018

Pemeriksaan Bakteri Legionella pada air



1.      Kultur
a)    Pembuatan kultur pada lempeng agar :
(1)  Seluruh sampel air disentrifus dengan gaya 6000 g (36.000 rpm) selama  10 menit atau difiltrasi dengan diameter pori 0,2 um.
(2)  Endapan atau filter yang sudah dipotong-potong di larutkan dengan 10 ml air steril. (3)  Kocok larutan dengan vortex.
(4)  Tanamkan larutan dengan ose pada lempeng agar yang sudah ditambah  dengan suplemen pertumbuhan dan suplemen selektif.
(5)  Inkubasikan pada suhu 350 C minimal 2 x 24 jam dalam CO2   2,5-5 % (inkubator CO2
atau sungkup lilin).
(6)  Amati lempeng agar pertumbuhan koloni Legionella tampak sebagai bulatan dengan tepi   meniggi,   mengkilap,   berwarna   putih   keabu-abuan   dan   lengket.   Dengan mikroskope  disekting  binokuler  tampak  tampilan  koloni  ground  glass  appearance (tembus  pandang).  Jika  jumlah  koloni  tampak  sangat  padat,  ulangi  penanaman
dengan mengambil 1 koloni, kemudian asamkan terlebih dahulu dengan 0,2  N HCL
selama 5 menit.
(7)  Lakukan pengukuran pH, bila pH <2 span="">,2 tambahkan KOH 1 M sedikit demi sedikit.

b). Pewarnaan gram:
(1)  Buat sediaan apus dari koloni bakteri yang berbentuk bulat dan konveks (cembung), putih keabu-abuan serta lengket.
(2)  Lakukan fixasi dengan methyl alkohol atau lewatkan di atas nyala api.
(3)  Teteskan larutan gentian violet pada preparat dan diamkan          selama 1 menit, lalu cuci dengan air mengalir.
(4)  Teteskan larutan lugol (iodine reagent) pada preparat dan diamkan selama  I  (satu)
menit, lalu cuci dengan air mengalir.
(5)  Teteskan alkohol absolut pada preparat dan diamkan selama 30 menit sampai warna hilang kemudian di cuci dengan air mengalir.
(6)  Teteskan larutan karbol fuhsin pada preparat dan diamkan selama 30 detik, kemudian dicuci dengan air mengalir dan keringkan di udara.
(7)  Periksa  dibawah  mikroskop  dengan  pembesaran  10  x  100  :  bakteri   Legionella berbentuk batang, gram negatif dengan ukuran 2-50 um dan lebar 0,5-1 um.





c) Permurnian koloni Legionella
(1)  Ambil kembali koloni dari hasil pada pewarnaan gram yang menunjukkan tersangka
Legionella dengan ose.

(2)  Tanamkan koloni pada lempeng agar yang sudah ditambah dengan suplemen selektif dan suplemen pertumbuhan.
(3)  Tanamkan juga koloni pada lempeng agar darah.
(4)  Inkubasikan pada suhu 35 0 C selama 2 x 24 jam di dalam sungkup lilin (candle jar)
yang ditambah CO2  5%.
(5)  Pertumbuhan koloni Legionella pada lempeng agar dengan suplemen  selektif dan
suplemen pertumbuhan tampak sebagai bulatan dengan tepi meninggi,  mengkilap,
berwarna  putih  keabu-abuan  dan  lengket.  Bila  hal  tersebut  terjadi  maka  koloni Legionella seharusnya tidak akan tumbuh pada lempeng agar  darah.  Bila tumbuh berarti bukan Legionella.

d)  Penyinaran dengan sinar Ultra Violet.
Sinari lempeng agar yang berisi koloni Legionella yang telah dimurnikan dengan sinar ultra violet pada panjang gelombang 360 nm.
Amati dan lakukan interpretasi terhadap warna fluoresensi yang timbul : 
(1)  Kemerahan : mungkin L.erythra/L.rubriluscesns
(2)  Kebiru-biruan                  :                   mungkin                 L.bozemanii/L.anisa/L.parisiensis/
L.dumoffii/L.gormanii/L.cherii.
(3)  Tidak berfluoresensi : mungkin L.pneumophila/L.spiritensis/ L.longbeachae/ L.jordanis dll.

e)     Uji Aglutinasi
(1)  Ambil kembali koloni yang sudah dimurnikan.
(2)  Lakukan  uji  aglutinasi  dengan  menggunakan  kit  aglutinasi  (prosedur   dan  cara pemeriksaan sesuai dengan petunjuk yang tertera pada kit yang dipergunakan).
(3)  Lakukan  pengamatan  terhadap  lempeng  aglutinasi,  bila  terjadi  aglutinasi  berarti
patogen (L.pneumophila).

2.      Uji biokimia

Uji biokimia dilakukan untuk memperkirakan jenis spesies bakteri Legionella. Lakukan pembuatan kultur pada lempeng agar :
a.      Lakukan pewarnaan Gram
b.      Lakukan pemurnian koloni Legionella
c.      Lakukan penyinaran koloni Legionella yang telah dimurnikan dengan sinar ultra violet. 

d.      Lakukan uji pergerakan (hanging drop method)
(1)  Lakukan inokulasi 1-2 koloni bakteri dalam 5 ml kaldu nutrient. 
(2)  Lakukan inkubasi 35 0 C selama 2-3 jam
(3)  Teteskan 1(satu) tetes suspensi bakteri di gelas penutup, tutup dengan gelas obyek cekung pada bagian cekungnya kemudian balikkan.
(4)  Amati pergerakan bakteri dengan mikroskop. Bedakan pergerakan bakteri dari gerak
Brown.
                                     e. Lakukan uji Catalase
(1)  ambil koloni dan sebar di atas kaca obyek
(2)  teteskan H2 O2  3% beberapa tetes
(3)  tutup dengan gelas penutup
(4)  amati bila positif ditunjukkan oleh adanya gelembung gas. 

  f.  Lakukan uji Oksidase
(1)  buat larutan segar (larutan baru)
(2)  teteskan 2 tetes larutan segar dengan pipet Pasteur di atas filter yang berdiameter pori
0,2 um dalam lempeng petri
(3)  ambil koloni bakteri dengan tusuk gigi steril, goreskan diatas filter yang berisi larutan tadi.
(4)  Amati bila hasil positif, goreskan koloni pada filter berwarna ungu gelap selama 10-60 detik.

g. Lakukan uji Gelatinase
(1)  siapkan nutrient gelatin dalam tabung
(2)  sentuh beberapa koloni dengan jarum
(3)  tusukkan jarum di tengah tabung nutrient gelatin sampai dengan 10 mm  dari dasar tabung
(4)  inkubasikan pada suhu 35 ° selama 24-48 jam
(5)  pindahkan tabung ke ice bath selama I jam, jangan dikocok atau di goyang.
(6)  Siapkan  tabung yang  berisi  nutrient  gelatin  dan bakteri  pseudomonas  aeruginosa sebagai kontrol positip, sedangkan tabung sebagai kontrol negatif hanya berisi nutrien gelatine
(7)  Balikkan tabung-tabung tersebut perlahan-lahan
(8)  Amati, bila kaldu mencair berarti hasil positif, bila tetap padat hasil negatif.



h.  Uji b- lactamase
Uji   dengan   menggunakan   cakram   nitrocefin,   prosedur   memperhatikan    petunjuk perusahaan pembuat.

i.   Uji hippurate hydrolysis
(1)  Biarkan Legionella yang telah dimurnikan berumur 24 96 jam.
(2)  Buat  larutan  sodium  hippurate  1%  dalam  tabung  dan  masukkan  koloni  bakteri sampai pekat.
(3)  Keluarkan tabung dari inkubator, dan tambahkan 0.2 ml larutan  ninhydrin  3.5%, dalam aseton-beitanol dengan perbandingan yang sama.
(4)  Inkubasikan pada suhu 350 C selama 18 – 20 jam.
(5)  Masukkan kembali tabung ke dalam inkubator selama 10 menit.
(6)  Keluarkan tabung dari inkubator dan langsung lakukan pengamatan.  Pengamatan dilakukan tidak lebih dari 20 menit setelah dikeluarkan dari inkubator.
(7)  Lakukan interpretasi, positif kuat berwarna ungu tua, positif lemah  berwarna ungu muda, dan negataif warna tidak berubah.

j. Interpretasi hasil uji biokimia
Interpretasi terhadap hasil uji biokimia dapat dilakukan dengan menggunakan tabel berikut :


Spesies
Gerak
Oxidase
Cata-
lase
Gelati-
nase
b-Lacta- mase
H. Hydro-
lysis
L.pneumo-phila
+
+
+
+
+
+
L.longbeac
+
+
+
+
+
-
L.oakrid-gensis
-
-
+
+
+/-
-
L.dumofii
+
-
+
+
+
-
L.jordanis
+
+
+
+
+
-
L.feelei
+
-
+
-
-
-