Senin, 16 Desember 2019

Kerugian Penggunaan Kaporit(?)

Kaporit dan sejenisnya telah banyak dipakai untuk kegiatan desinfeksi atau sterilisasi air minum, kolam renang, spa, kandang, ambing payudara hewan (susu), 
Efek toksik dari kalsium hipoklorit utamanya bergantung pada sifat korosif hipoklorit. Jika sejumlah kecil dari pemutih (3-6% hipoklorit) tertelan (ingesti), efeknya adalah iritasi pada sistem gastrointestinal. Jika konsentrasi pemutih yang tertelan lebih besar, misalnya hipoklorit 10% atau lebih, efek yang akan dirasakan adalah iritasi korosif hebat pada mulut, tenggorokan, esofagus, dan lambung dengan pendarahan, perforasi (perlubangan), dan pada akhirnya kematian. Jaringan parut permanen dan penyempitan esofagus dapat muncul pada orang-orang yang dapat bertahan hidup setelah mengalami intoksikasi (mabuk hipoklorit) hebat.

Gas klorin yang terlepas dari larutan hipoklorit terhirup (inhalasi), efek yang akan muncul adalah iritasi pada rongga hidung, sakit pada tenggorokan, dan batuk.
Kontak dengan larutan hipoklorit kuat dengan kulit akan menyebabkan kulit melepuh, nyeri bakar, dan inflamasi. Kontak mata dengan larutan pemutih konsentrasi rendah menyebabkan iritasi ringan, tetapi tidak permanen.
Larutan dengan konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan luka mata parah. Pengaruh hipoklorit dalam level rendah pada jangka waktu lama dapat menyebabkan iritasi kulit.

Belum diketahui apakah pengaruh klorin memiliki efek pada kemampuan reproduksi. International Agency for research on Cancer (IARC) telah menetapkan bahwa garam hipoklorit tidak diklasifikasikan bersifat karsinogenik terhadap manusia. Anak-anak mungkin terpengaruh kalsium hipoklorit dengan jalur yang sama dengan orang dewasa. Tidak diketahui apakah anak-anak berbeda dengan orang dewasa terkait dengan suseptibilitasnya terhadap kalsium hipoklorit. Secara umum, anak-anak dapat lebih berisiko terhadap bahan korosif daripada orang dewasa. Belum diketahui juga apakah kalsium hipoklorit dapat menyebabkan cacat lahir atau efek pada perkembangan tubuh lainnya.
Sekilas bahaya kaporit:
Penambahan kaporit ke dalam air akan menghasilkan senyawa kimia sampingan yang bernama Trihalometana (THM). Senyawa ini banyak diklaim oleh para pakar air di luar negeri sebagai penyebab produksi radikal bebas dalam tubuh ( mengakibatkan kerusakan sel dan bersifat karsinogenik ).
Penelitian lain di Hartford, Connecticut, AS menemukan "Wanita dengan kanker payudara mempunyai kadar organochlorines (zat sampingan klorinasi) lebih tinggi hingga 50-60% lebih tinggi di dalam jaringan payudaranya dibanding mereka yang tidak mempunyai kanker.

Fakta yang lebih mengejutkan adalah bahwa efek negatif kaporit terhadap tubuh manusia sebanyak 70% bukan masuk melalui air yang diminum, melainkan dari uap klor (kloroform) dalam kaporit yang terhirup saat mandi, ditambah dengan penyerapan kaporit melalui kulit. Hal ini terutama saat mandi dengan air hangat. Selain meningkatkan jumlah kaporit yang menguap, air hangat juga membuka pori-pori kulit. Dengan demikian kaporit terhirup dan terserap kulit dan langsung masuk ke pembuluh darah


sumber : http://www.purewatercare.com

Senin, 30 September 2019

Efisiensi Removal Logam Berat pada IPAL Lumpur Aktif




Tabel : Efisiensi Removal  Logam Berat pada IPAL Lumpur Aktif
No
Logam Berat
Efisiensi (%)



1
Al
<20 font="">
2
Mo
<20 font="">
3
As
<20 font="">
4
Pb
20 -50
5
Mn
20 - 50
6
Ag
20 - 50
7
Cd
>50
8
Fe
>50
9
Cr
>50
Sumber : Ashish Agarwal (2018), “Waste WaterTreatment Process”.

Minggu, 15 September 2019

Pengambilan Sampel Air (Bakteriologis)

PENGAMBILAN SAMPEL AIR SECARA MIKROBIOLOGIS


A.          DASAR TEORI

Penggunaan air khususnya air minum dan air bersih dalam kehidupan sehari-hari harus memenuhi syarat-syarat kesehatan, termasuk syarat mikrobiologis. Hal itu dikarenakan bahwa air minum dapat menjadi media pembawa penyakit terutama penyakit perut (gastroenteritris). Air merupakan benda yang mudah tercemar, tidak terkecuali oleh tinja. Untuk mengetahui bahwa sumber air telah tercemar oleh tinja dapat dilakukan dengan cara menguji adanya bakteri Coliform dalam sumber air tersebut. Hal ini karena Coliform merupakan bakteri yang hidup dalam usus manusia dan hewan berdarah panas lainnya yang keluar bersama tinja. Air yang terkontaminasi oleh Coliform menunjukkan bahwa air tersebut telah tercemar oleh tinja dan identik dengan terkontaminasi oleh pathogen yang berada dalam usus menusia dan hewan berdarah panas lainnya.
Untuk menguji kualitas air secara mikrobiologis, tidak perlu menguji semua jasad renik yang ada dalam air tersebut. Pengujian yang dilakukan cukup hanya dengan menguji adanya Coliform saja. Air yang terkontaminasi oleh Coliform menunjukkan bahwa kualitas mikrobiologis air tersebut buruk. Mekanisme pemeriksaan kualitas air bersih atau air minum secara mikrobiologis ada 3 langkah penting yaitu pengambilan sampel yang representative, transport serta pengawetan sampel dan analisis di laboratorium. Maksud dari pengambilan sampel adalah mengumpulkan volume dari suatu sumber air yang akan diteliti dengan jumlah sekecil mungkin, tetapi mewakili (representative) yaitu masih mempunyai sifat-sifat yang sama dengan sumber air bersih tersebut.
Berberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan sampel air secara mikrobiologis adalah sebagai berikut:

1.      Wadah/ Botol Sampel
Pengambilan sampel secara mikrobiologis diperlukan volume sampel air minimal 100 ml. oleh karena itu botol sampel harus berukuran besar dan bermulut lebar, minimal bervolume 200 ml. hal ini dimaksudkan apabila botol diisi dengan 100 ml sampel air, maka masih terdapat rogga atau ruang udara untuk mengocok air sampel air sampel air sebelum dianalisis sehingga penyebara jasad renik dapat merata. Botol sampel harus dalam keadaan steril. Sebelum disteril botol sampel harus ditutup kapas dahulu dan dibungkus dengan dengan kertas paying. Botol kemudian disterul dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121°C, tekanan 1 Atm selama 15 menit. Botol sampel harus disesuaikan dengan sumber air bersih yang akan diambil.
·       Sumur gali, reservoie dan sejenisnya perlu menggunakan botol sampel yang bertali dan pemberat.
·       Sumur pompa, kran/perpipaan : langsung menggunakan wadah/botol sampel tanpa tali dan pemberat
·       Sungai, danau/waduk langsug menggunakan wadah/botol sampel tanpa tali dan pemberat atau bila perlu dapat juga menggunakan botol sampel bertali dan pemberat.

2.      Pengawetan Sampel
Sampel  air yang telah diambil harus segera dibawa dalam keadaan dingin  (diletakan dalam termos es dan diisi dengan pecahan es batu) ke laboratorium untuk segera dianalisis. Apabila sampel air tidak segera dianalisis, maka sampel  boleh disimpan dalam tempat dingin seperti kulkas/refrigerator tetapi sebaiknya tidak lebih dari 24 jam.

3.      Teknik Pengambilan sampel


a.                   Alat
::
1)      Botol sampel steril volume ± 250 ml
2)      Botol sampel steril dengan pemberat volume  ± 250 ml
3)      Bunsen
4)      Tas pembawa sampel


b.                  Bahan
:
5)      Kapas
6)      Alkohol 70%
7)      Korek
8)      Lebel
9)      Kertas pembungkus/ kertas payung



c.                      Cara kerja :
:








1)         Sumur gali, reservoir dan sejenisnya
a)         Aseptiskan tangan dan tempat kerja dengan alcohol 70%
b)         Membuka bungkus kertas dan botol dipegang bagian bawah yang masih ada kertas bungkusnya sehingga tangan tidak bersentuhan dengan botol.
c)         Tali dibuka dan botol diturunkan pelan-pelan sampai mulut botol masuk minimum 10 cm ke dalam air (bila tinggi air memungkinkan)
d)        Setelah terisi penuh, botol diangkat dan isi dibuang 1/3 volume botol sehingga volumenya 2/3 volume botol
e)         Panaskan mulut botol dengan nyala api dan ditutup
f)          Botol yang telah berisi contoh air dibungkus kembali dengan kertas pembungkusnya.
g)         Tulis label

Hal yang harus diperhatikan
·            botol dihindarkan bersentuhan dengan dinding
·            untuk pemeriksaan sisa chlor dan pH, contoh diambil dengan botol bersih lain yang tidak diberi Natrium Thiosulfat

2)         Kran/perpipaan

a)         Aseptiskan tangan dan tempat kerja dengan alcohol 70%
b)         Kran dibuka penuh dan dibiarkan mengalir selama 2 – 3 menit atau dalam waktu yang dianggap cukup untuk membersihkan pipa persil, kemudian ditutup
c)         Kran dipanaskan/ diaseptiskan dengan nyala api/ alcohol
d)        Kran dibuka 1-3 menit kemudian penutup penutup botol dilepas dengan tangan kiri dan botol dipegang dengan tangan kanan.
e)         Botol diisi sampai 2/3 volume botol (lebih besar dari 100 ml)
f)          Panaskan mulut botol dengan nyala api, dan ditutup
g)         Botol yang telah berisi contoh air dibungkus dengan kertas pembungkusnya.
h)         Tulis label.

        Hal-hal yang harus diperhatikan:

·           Air harus jelas dari pipa persil yang dihubungkan langsung dengan pipa induk.
·           Contoh sebaiknya diambil dari kran yang sering dipakai
·           Hindarkan pengambilan contoh air dari alat-alat tambahan yang dipasang pada kran atau dari kran yang bocor
·           Apabila kran kotor, harus dibersihkan lebih dahulu sebelum dilakukan pengambilan contoh.

3)         Sungai
Sampel air yang akan diambil dipilih pada bagian sungai yang mengalir. Bagian sungai yang diam sebaiknya dihindari. Usahakan jangan terlalu di tepi, jangan terlalu pada permukaan air, jangan pada dasar sungai. Mulut botol sampel steril diletakkan horizontal searah dengan arah aliran air. Setelah penuh, botol diangkat, sebagian airnya dibuang. Mulut botol dipanaskan dengan api Bunsen dan segera ditutup.

4.      Label sampel

Untuk menghindari kesalahan dalam analisis, sampel perlu diberi label, seperti:
1)   Nama  dan alamat pengirim sampel
2)      Waktu dan tanggal pengambilan sampel
3)      Jenis sumber air dan tempat pengambilan sampel
4)      Jenis pengolahan air yang dilakukan (kalau ada)
5)      Tanda tangan pengambil sampel.

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengambilan sampel Botol harus tetap tertutup sampai saat diisi dan bagian botol yang berhubungan dengan air dihindari dari kontaminasi.
·         Botol diisi ± 100 ml sampel air sehingga di dalam botol masih tersedia ruang udara untuk mengocok sampel air sebelum dianalisis agar penyebaran jasad renik merata.
·         Hati-hati memegang tutup botol agar tidak terjadi kontaminasi dengan tangan, udara atau benda lainnya.
·         Botol dipegang pada bagian bawah
·         Pengambilan sampel dilakukan secara aseptis.


Selasa, 27 Agustus 2019

Sampah Plastik Untuk Reklamasi Teluk Jakarta


Reklamasi teluk Jakarta telah menuai pro dan kontra dengan argumentasi masing-masing. Belakangan Gubernur Anis Baswedan telah mengijinkan pembangunan di tiga pulau reklamasi.  Tentu dengan setumpuk argumentasi yang disertakan.  Kelak, siapa tahu  Gubernur berikutnya akan mengijinkan (kembali) melakukan reklamasi di Teluk Jakarta.

Reklamasi membutuhkan jutaan meter kubik  tanah atau material urug. Material untuk pengurugan  yang lazim adalah batu, tanah dan pasir. Ini masih konvensional atau mungkin masih konservatif. Setidaknya menurut penulis.  Sesungguhnya masih ada material alternative, yaitu:  sampah.

Jakarta setiap hari membuang sampah 7.500 ton. Ini sudah  dapat dikatakan  Jakarta darurat sampah. Sampah sebanyak itu di buang (di tumpuk) di Bantargebang.  TPA Bantargebang diperkirakan  hanya mampu menampung sampah Jakarta  sampai dengan tahun 2021.  Selanjutnya Sesuai dengan Masterplan Pengelolaan Sampah Provinsi DKI Jakarta tahun 2012-2032, Jakarta  akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau lebih dikenal sebagai Intermediate Treatment Facility (ITF) sebanyak 4 buah di Sunter, Marunda, Cakung, dan Duri Kosambi.  Belum ada alternative  pembuangan sampah yang  out of the box berupa  landfill untuk reklamasi.

ITF atau pengolahan apapun yang saat ini dirancang, pasti tetap akan menyisakan tumpukan eks sampah padat.  Ini artinya masih membutuhkan lahan untuk menampung.  Biaya  instalasi dan operasional juga besar. Bandingkan, misalnya, jika sampah digunakan untuk material urug reklamasi Teluk Jakarta (?).  Nyaris hanya perlu biaya pengangkutan. Biaya pemadatan dan lain-lain  bisa numpang proyek reklamasi. Problem sampah Jakarta teratasi, sekaligus memperoleh  lahan baru dari reklamasi.

Teori pembuangan atau pemusnahan  sampah  diantaranya adalah  open dumping, dumping in water, feeding to hog, combustion, inceneration, land fill, control landfill, sanitary landfill dan energy recovery. Ini artinya pemanfaatan sampah untuk material urug  pada kegiatan reklamasi, memiliki dasar teoritis yang jelas.  Sampah dapat digunakan untuk landfill  (pengurugan) atau control landfill.  Sudah pasti harus dengan persyaratan tertentu.

Persyaratan utama  penggunaaan sampah untuk landfill (baca : reklamasi) adalah pencegahan  terhadap kemungkinan terjadinya pencemaran atau bencana dikemudian hari.  Untuk ini secara teoritis dan teknis tidak terlalu sulit, yakni dengan  cara isolasi  dan stabilisasi.  Mencegah agar lindi (leachete)  tidak mencemari laut,  maka pengurugan dengan sampah  hanya boleh dilakukan ketika pantai pulau reklamasi  sudah jadi. Minimal  selebar 105 meter dari garis  pantai.  Sampah hanya boleh untuk mengisi bagian tengah pulau.

Teknik yang lebih ideal untuk mencegah pencemaran dari sampah adalah  dengan  kapsulasi menggunakan bahan kedap air. Sampah yang sudah  dipadatkan, kemudian  dimasukan kantong-kantong kedap air.  Selanjutnya digunakan untuk pengganti material urug pulau reklamasi. Pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya bencana  akibat penggunaan sampah untuk reklamasi, tentu  harus melibatkan  banyak fihak, diataranya para pakar konstruksi, pakar lingkungan, pakar tata bangunan, pakar hydrologi  dan lainnya.

Purwokerto, 27 Agustus 2019.

Minggu, 23 September 2018

Mengolah Air Limbah Yang Mengandung Sianida dan Hidogen Sulfida (H2S)

Air limbah tertentu sering mengandung sianida dan H2S. Sianida (HCN) sering dijumpai pada air limbah tapioka. Hidrogen Sulfida (H2S) merupakan salah satu gas alam. Gunung meletus dapat mengeluarkan gas H2S. Proses penguraian bahan organik, protein dan lemak  yang bersumber hewan dan tumbuhan oleh mikroorganisme, salah satunya dihasilkan gas H2S.  Danau, sungai, selokan  atau perairan permukaan lainnya  sering tercemar H2S  akibat pencemaran langsung atau dari proses penguraian mikroorganisme.  H2S mudah dikenali dengan bau busuk. Air limbah yang berbau busuk sering diketahui mengandung H2S.  Kentut (flatus) sering mengandung H2S sehingga bau tak sedap. 

Untuk mengolah limbah yang mengandung Sianida atau H2S dapat dilakukan dengan penambahan Hidrogen Peroksida (H2O2). Hidrogen peroksida merupakan bahan kimia yang ramah lingkungan atau environment friendly, karena tidak menghasilkan residu berbahaya pada lingkungan ketika digunakan. Hidrogen peroksida hanya akan terurai menjadi air (H2O) dan oksigen (O2) pada saat digunakan.

Hidrogen peroksida (H2O2), merupakan bahan kimia oksidator, yang banyak digunakan sebagai bleaching agent (pemutih) untuk pulp, kertas, tekstil, kayu dan rotan, untuk de-inking process kertas bekas, bahan pembuatan bahan kimia lain (deterjen, epoxy, dll), untuk metal etching pada industri elektronika, disinfectant pada packaging processwater treatment dan lain-lain

Hidrogen Peroksida juga dipergunakan untuk membersihkan air limbah yang tercemar polusi seperti : Hidrogen Sulfida (H2S), Phenilics, Cyanides, dan unsur lain yang terdapat dalam limbah air. 

Dosis H2O2 untuk pengolahan air limbah ditentukan dengan perhitungan stosiometri atau dengan pendekatan melalui mekanisme jar test.

Kamis, 30 Agustus 2018

Teknologi Daur Ulang Air Bekas Wudhu.


Krisis Air Tak Perlu Tayamum. Gunakan Padasan Daur Ulang. Padasan berasal dari kata pehadasan. Wadah air dilengkapi kran/lubang pancuran yang digunakan untuk bersuci dari hadats. Utamanya  bersuci dari  hadats kecil (wudhu). Padasan banyak terdapat di rumah penduduk pedesaan Jawa yang kental dengan budaya santri. Bentuk padasan bermacam-macan, diantaranya berupa  tempayan, gentong, klenting, drum, ember, ruas bambu, dan wadah lainnya. Wadah tersebut diisi dengan air suci dialirkan melalui lubang pancuran kemudian digunakan untuk wudhu. Artinya setiap berwudhu memerlukan air suci dengan jumlah tertentu.

Belum ada data yang  valid mengenai  Jumlah air yang dibutuhkan setiap orang  untuk  satu kali berwudhu. Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor SNI-03.7065.2005 hanya menyebutkan bahwa untuk keperluan peribadatan diperlukan  5 liter per orang. Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam berwudhu dengan satu mud air dan mandi dengan satu sha’ hingga lima mud air  (Hadits Bukhori &Muslim).   Satu mud air ukurannya  sama dengan  688 ml. Berdasarkan eskperimen penulis, keperluan air untuk nyaman  berwudhu  antara 2-4 liter.

Air bekas wudhu biasanya langsung dibuang.   Jika dihitung  jumlah air bekas wudhu yang dibuang  pada satu  masjid  dengan jamaah 100 orang yang berwudhu (misalnya), maka  akan ada 200 - 400 liter air yang  terbuang untuk satu kali waktu sholat. Bisa diperhitungkan jumlah air bekas wudhu yang dibuang  untuk lima kali waktu sholat,  atau selama satu pekan, dan seterusnya.  Dalam sepekan diperkirakan ada  7.000 – 14.000 liter  setara  1-2 mobil tangki  air yang terbuang. Ketika kondisi krisis air, jumlah   1-2 mobil tangki air menjadi sangat bermakna. Sayang sekali jika harus dibuang, mestinya dapat  digunakan kembali untuk berwudhu. Air bekas wudhu dapat di daur ulang.

Teknologi Daur Ulang Air Bekas Wudhu.

Kunci daur ulang air bekas wudhu adalah menjaga agar air tetap suci dan memenuhi persyaratan kualitas air secara sehat. Agar air tetap suci adalah dengan menjamin air bekas wudhu volumenya lebih dari dua kullah dan  tidak berubah warna, bau dan rasa. Dalam banyak kitab fiqih Islam disebutkan bahwa ukuran volume dua kulah adalah 500 rithl Baghdad (= 446 3/7 rithl Mesir =  81 rithl Syam = 93,75 sho’). Kemudian para ulama kontemporer mencoba mengukurnya dengan besaran zaman sekarang, dan ternyata dalam ukuran masa kini kira-kira sejumlah 270 liter.

Air yang memenuhi persyaratan kualitas kesehatan adalah air  yang memenuhi persyaratan fisik, kimia, bakteriologi dan radioaktivitas. Air yang memenuhi persyaratan fisik adalah  air yang tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa. Air yang memenuhi persyaratan kimia adalah air yang memiliki kandungan kimia dengan kadar tertentu dan tidak membahayakan kesehatan. Air yang memenuhi syarat bakteriologis adalah air yang tidak mengandung kuman penyebab penyakit. Air yang memenuhi syarat radioaktivitas adalah air yang tidak tercemar radiasi zat radioaktiv.

Umumnya kualitas fisik, kimia dan radioaktivitas  air bekas wudhu masih relative baik. Hanya kualitas bakteriologis yang buruk. Dengan demikian pengolahan air bekas wudhu sangat mudah. Teknologi daur ulang air bekas wudhu terbilang sangat sederhana. Air bekas wudhu hanya diolah dengan penyaringan kasar dan mikro (screening dan filtrasi) dan pembunuhan kuman penyakit (desinfeksi).   Untuk keperluan penyaringan mikro dapat digunakan cartride filter, dan untuk desinfeksi dapat digunakan lampu Ultra Violet type C (UV-C). Kedua komponen ini lazim digunakan pada depot air minum isi ulang. Harganya juga sangat terjangkau.

Padasan daur ulang air bekas wudhu dapat dibuat dengan komponen minimal  sebagai berikut : a). penampungan air memiliki volume lebih dari 270 liter; b). mikro screen ; c). cartride filter 10 mikron; d). lampu  UV-C; e). pompa. Prinsip kerja  padasan daur ulang adalah :  air bekas wudhu  dari kran/pancuran disaring dengan saringan kasar, kemudian ditampung dan langsung dipompa menuju cartride filter dan lampu UV-C. Selanjutnya ditampung atau langsung dialirkan menuju  kran/pancuran wudhu. Siap digunakan untuk wudhu kembali. Demikian seterusnya, air terus  di “putar”.  Hanya dengan air  300 liter (misalnya)  dapat digunakan untuk  wudhu ratusan orang, bahkan  berkali-kali “untuk selamanya”. Pemeliharaannya sangat simple, cukup membersihkan saringan, mengganti filter atau lampu UV-C, serta menjaga volume air tetap lebih dari 270 liter.

Teknologi semacam  ini dapat diaplikasikan di semua masjid (utamanya yang sulit air).  Teknologi ini Hemat air, ramah lingkungan, sehat dan tetap syar’i.   Ketika krisis air, kita tidak perlu  tayamun. Tetap dapat berwudhu dengan padasan daur ulang.

Purwokerto, 31 Agustus 2018


Rabu, 11 Juli 2018

Pengambilan Sample Asbes

The use of proper respiratory protection is advisable. When applicable, a plastic drop cloth should also be used. 

1. Locate the sample location and suspected material.

2. Put on the enclosed plastic gloves to avoid contact between your skin and the sample.

3. Completely wet the sample location using a spray bottle with a soap and water solution (one teaspoon of soap per quart of water). The sample location should be kept wet throughout the sampling procedure to prevent the release of airborne fibers.

4. Collect the sample using a razor knife, chisel or another tool capable of securing a sample of the entire matrix. (example: the underlying scratch coat beneath popcorn ceiling, pipe insulation and mastic on seams, vinyl flooring including any additional layers of vinyl and/or mastic.)

5. Place the sample in one of the enclosed sample bags and seal.

6. Completely fill out the information form. (analysis can not be conducted unless you submit all the information requested.)





Pemeriksaan langsung dilapangan dapat menggunakan alat  asbestoprobe. silakan KLIK  http://www.asbestoprobe.com