Rabu, 16 Juli 2008

Bahaya dan Solusinya penggunaan Styrofoam

Styrofoam, atau polistiren ekspandid (EPS), mengandung beberapa zat berbahaya yang dapat merusak kesehatan manusia jika terpapar dalam jumlah yang besar dan dalam jangka waktu lama. Beberapa zat berbahaya pada styrofoam antara lain:

  1. Stirena: Bahan kimia ini digunakan dalam proses produksi styrofoam dan dapat terlepas dari produk Styrofoam ketika terkena panas atau bahan kimia tertentu. Pajanan stirena dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, tenggorokan, serta gangguan sistem saraf pusat.

  2. Benzena: Benzena adalah senyawa organik yang beracun dan karsinogenik. Zat ini dapat terbentuk selama pembakaran styrofoam atau saat membuang styrofoam ke tempat pembuangan sampah yang tidak terkelola dengan baik.

  3. Klorodifluorometana: Senyawa ini juga dikenal sebagai R-22, dan digunakan pada proses manufaktur styrofoam. Senyawa ini merupakan gas rumah kaca dan telah dilarang penggunaannya di banyak negara karena membahayakan lapisan ozon.

  4. Hidrofluorokarbon (HFC): Zat ini digunakan sebagai alternatif untuk klorodifluorometana pada beberapa jenis styrofoam. Namun, HFC juga merupakan gas rumah kaca dan dapat merusak lapisan ozon.

Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan untuk mengurangi penggunaan styrofoam dan memilih bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti daur ulang kertas atau bahan-bahan biodegradable. Jika terpaksa menggunakan styrofoam, pastikan untuk membuangnya dengan benar agar tidak mencemari lingkungan dan kesehatan manusia.


Memusnahkan limbah styrofoam dengan aman dan ramah lingkungan bisa dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:

  1. Daur ulang: Styrofoam dapat didaur ulang menjadi produk baru seperti bahan bangunan, peralatan rumah tangga, dan barang lainnya. Namun, daur ulang styrofoam memerlukan teknologi yang canggih dan terkadang sulit ditemukan di beberapa daerah.

  2. Penggunaan mesin penghancur styrofoam: Beberapa perusahaan telah mengembangkan mesin khusus untuk menghancurkan dan mengompresi limbah styrofoam menjadi bentuk padat yang lebih mudah diolah dan dibuang.

  3. Pembakaran: Pembakaran styrofoam tidak disarankan karena dapat menghasilkan gas beracun seperti stirena dan benzena serta membentuk partikel-partikel berbahaya. Namun, jika tidak ada pilihan lain, maka pembakaran secara terkontrol dan menggunakan teknologi yang tepat dapat dilakukan untuk menghilangkan limbah styrofoam.

  4. Menggunakan metode biodegradasi: Metode biodegradasi melibatkan penggunaan bakteri dan jamur dalam menguraikan limbah styrofoam menjadi senyawa organik yang lebih mudah diurai. Namun, metode ini masih dalam tahap pengembangan dan belum banyak digunakan secara komersial


Memanfaatkan kembali atau menggunakan kembali limbah styrofoam dapat membantu mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan dan meningkatkan keberlanjutan lingkungan. Beberapa cara untuk memanfaatkan kembali limbah styrofoam antara lain:

  1. Penggunaan kembali dalam pengiriman: Styrofoam dapat digunakan kembali sebagai bahan pelindung dalam pengiriman barang. Namun, pastikan untuk membersihkan dan mendaur ulang styrofoam sebelum digunakan kembali.

  2. Dijadikan bahan bangunan: Limbah styrofoam dapat dijadikan bahan untuk membuat batu bata ringan atau campuran beton untuk proyek konstruksi.

  3. Dibuat menjadi mainan atau hiasan: Limbah styrofoam dapat diubah menjadi berbagai macam produk seperti puzzle, bola, atau dekorasi hiasan.

  4. Dijadikan bahan isolasi: Styrofoam dapat digunakan kembali sebagai bahan isolasi pada atap dan dinding rumah.

  5. Daur ulang: Limbah styrofoam dapat didaur ulang menjadi produk baru seperti bahan bangunan, peralatan rumah tangga, dan barang lainnya.

Tidak ada komentar: