Nusantara di Antara Cetak Biru dan Realita: Membedah Dialektika 200 Tokoh Nasional (2019–2026)
Memindahkan ibu kota bukan sekadar urusan menggeser
koordinat geografis pusat kekuasaan dari Jakarta ke Sepaku, melainkan sebuah
pertaruhan terbesar bagi eksistensi peradaban modern Indonesia. Di balik
megahnya rancangan Forest City dan ambisi digitalisasi abad ke-21,
terhampar bentangan realitas sosiologis-ekologis yang sarat akan ketegangan,
risiko fiskal, dan ujian kedaulatan hukum.
Buku naskah akademis ini secara berani dan objektif
membedah megaproyek Ibu Kota Nusantara (IKN) melalui kacamata pemikiran 200
tokoh lintas disiplin sepanjang periode krusial 2019–2026. Di dalamnya,
dialektika kebangsaan diuji secara berimbang melalui enam klaster kebijakan
strategis:
· Lingkungan & Spasial: Antara
janji kota hijau rendah karbon dengan ancaman nyata deforestasi serta krisis
air bersih.
·
Ekonomi & Fiskal: Menakar
kesehatan APBN di tengah lambatnya penetrasi investasi asing global.
· Hukum & Keamanan: Menyoroti
dilema hak guna usaha (HGU) 190 tahun versus perlindungan tanah ulayat,
sekaligus menguji kesiapan sistem pertahanan udara berlapis di jalur ALKI II.
· Sosial & Digital: Menghalau
risiko marginalisasi budaya asli Dayak-Paser dari arus deras modernisasi dan
pengawasan siber massal.
Buku ini bukan sekadar catatan dokumenter ataupun
puji-pujian teknokratis. Ini adalah sebuah dokumen reflektif, pegangan wajib
bagi para akademisi, pembuat kebijakan, dan setiap warga negara yang menolak
abai terhadap arah masa depan bangsa. Sebuah karya yang menuntut kita menjawab
pertanyaan paling mendasar: Mampukah Nusantara tumbuh menjadi ibu kota yang
tidak hanya dikagumi dunia karena kecerdasannya, tetapi juga dicintai rakyatnya
karena keadilannya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar