"Bapak itu... persis seperti termos! Dingin di luar, tapi panas di dalam!"
Bagi orang banyak, Sugeng adalah pria Jawa yang kaku, dingin, dan teramat lempeng. Ia tak pandai mengumbar sanjungan, apalagi memamerkan kemesraan di ruang publik. Namun, di balik pintu rumah yang tertutup, di hadapan Dyah Sri Utari—istri yang menjelma menjadi pusat semestanya—Sugeng adalah kehangatan yang membara. Uut adalah casing-nya, penceria hidupnya, sekaligus wanita yang rela melipat ambisi pribadinya demi tegaknya kehormatan sang suami.
Bersama, mereka meniti takdir dari masa-masa sulit yang pas-pasan hingga berhasil menapaki puncak karier di bawah bayang-bayang Gunung Slamet. Namun, tepat ketika angan-angan masa tua untuk menunaikan ibadah haji bersama dan menetap selamanya di Karangmangu mulai dirajut, sebuah kabut hitam tak kasat mata menyusup masuk. Isyarat-isyarat pamit yang sunyi mulai ditebar, dan Sugeng dipaksa menghadapi ujian terbesar dalam hidupnya: merelakan belahan jiwanya pulang lebih dulu, meninggalkan sepotong kehangatan yang tak akan pernah mendingin
Lanjut membaca / unduh buku KLIK disini ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar