Aura di Balik Watu Petilasan
Di sudut utara Kampus 7 Poltekkes Semarang, Jln.
Baturraden Km 12, Purwokerto, sebuah batu raksasa berdiri tegap menolak tunduk.
Tahun 2011, deru mesin ekskavator hidrolik mendadak lumpuh dan godam baja para
pemecah batu lokal mental tak berdaya. Batu itu menolak disingkirkan, memaksa
cetak biru gedung modern mengalah dan bergeser demi menghormati keberadaannya.
Ini bukan sekadar batu hitam biasa. Ini adalah Watu
Petilasan Mbah Sani Taryan.
Mundur berabad-abad lalu, saat wabah mematikan (pageblug)
menyapu bersih sebuah generasi, dua remaja sakti bernama Sani dan Taryan
bertarung ego memperebutkan batu tersebut sebagai tempat berjemur setiap pagi.
Namun, dari rivalitas sengit di atas altar alam itulah, benih cinta justru
tumbuh dan mengikat mereka dalam janji suci pernikahan.
Sebagai sepasang suami istri, mereka tidak dikenal
karena kebal senjata, melainkan karena tubuh mereka yang tak pernah tersentuh
penyakit. Lewat mantra legendaris Laku Pitu, mereka membongkar
rahasia kesaktian mereka yang sebenarnya: sebuah manifesto hidup bersih murni
yang menyelamatkan peradaban. Sebelum menghilang secara misterius tanpa jejak,
Mbah Sani meninggalkan sebuah nubuat: ia akan memiliki banyak "cucu"
ideologis yang belajar di tempat itu, saling jatuh cinta, dan menikah.
Puluhan tahun kemudian, Departemen Kesehatan RI
mendirikan sekolah bagi para ahli kesehatan lingkungan di atas tanah yang sama.
Ilmu modern yang diajarkan ternyata bersalin rupa dari ajaran Laku Pitu,
dan para lulusannya diberi gelar resmi: Sanitarian—sebuah nama yang
secara magis terdengar mirip dengan Sani Taryan.