Kesehatan Lingkungan
Senin, 22 Juni 2026
Selasa, 16 Juni 2026
Plasma Activated Water (PAW)
Plasma Activated Water (PAW) merupakan air yang telah diperlakukan menggunakan plasma sehingga mengandung berbagai ROS (Reaktive Oxygen Species) dan RNS (Reaktive Nitrogeen Species) .
Komponen utama PAW meliputi:
- H₂O₂
- NO₂⁻
- NO₃⁻
- O₃
- •OH
(Kaushik et al., 2021)
PAW memiliki sifat:
- Antimikroba
- Oksidatif
- Relatif stabil
PAW saat ini banyak diteliti untuk:
- Disinfeksi air
- Sanitasi pangan
- Pertanian
- Pengolahan limbah
Bayangkan Reaktor Plasma untuk Pengolahan Air ini seperti sebuah "Mesin Petir Ajaib" yang bertugas membersihkan air kotor menjadi air bersih.
Berikut adalah penjelasan sederhananya (ELI5):
1. Air Kotor Masuk (Inlet Air Limbah)
Pertama-tama, air yang penuh dengan kotoran, kuman, atau zat kimia berbahaya (air limbah) dimasukkan ke dalam tangki khusus di dalam mesin ini.
2. Membuat "Petir" di Dalam Mesin (Sumber Daya & Elektroda)
Mesin ini dihubungkan ke listrik bertegangan sangat tinggi. Di dalam tangki, ada bagian logam bernama Elektroda. Ketika listrik dinyalakan, elektroda ini akan menembakkan percikan listrik yang sangat kuat secara terus-menerus—mirip seperti petir kecil yang menyambar-nyambar di atas permukaan air.
3. Terbentuklah Plasma (Zona Discharge Gas Plasma)
Percikan listrik atau petir kecil tadi mengubah udara di sekitarnya menjadi sesuatu yang disebut Plasma. Plasma adalah wujud zat keempat (selain padat, cair, dan gas) yang sangat panas dan penuh energi. Di dalam zona plasma ini, keajaiban pembersihan dimulai.
4. Pasukan Pembersih Lahir (Generasi Radikal OH & Spesies Reaktif)
Petir plasma tadi memecah molekul udara dan air menjadi komponen-komponen super aktif yang disebut Radikal OH (Hidroksil) dan Ozon (O3). Anggap saja mereka ini seperti "Pasukan Pac-Man" atau "Spons Pembersih Super" yang sangat galak terhadap kotoran.
5. Menghancurkan Musuh (Oksidasi Polutan)
Pasukan Radikal OH dan Ozon tadi langsung menyerang kuman, bakteri, dan zat kimia beracun yang ada di dalam air. Mereka "menggigit" dan menghancurkan polutan tersebut sampai hancur tak tersisa, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang aman seperti air bersih ($H_2O$) dan gas karbon dioksida ($CO_2$) yang biasa kita embuskan saat bernapas.
6. Air Bersih Keluar (Outlet Air Terolah)
Setelah kotorannya dihancurkan oleh pasukan petir plasma, air yang tadinya kotor dan berbahaya kini sudah berubah menjadi air yang bersih, sehat, dan aman untuk dikeluarkan dari mesin.
Singkatnya: Mesin ini menggunakan kekuatan petir buatan (plasma) untuk menciptakan pasukan pembersih alami yang bisa menghancurkan racun dan kuman di dalam air sampai benar-benar hilang!
Minggu, 14 Juni 2026
Zat berbahaya pada pangan instan
Ki AI pintar menyajikan infografis yang mudah kita fahami, kemudian (semoga) kita bisa menyadari dan menyadarkan kawan atas bahaya apa saja yang kita konsumsi. sbb. :
Senin, 08 Juni 2026
Odds Rasio E. coli vs Penyakit Perut (Diare)
Tabel Perbandingan Odds Ratio E. coli dan Diare
| Penelitian | Lokasi | Populasi | Odds Ratio (OR) | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| Munawarah et al. (2022) | Bantul, Yogyakarta, Indonesia | Rumah tangga dengan sumur gali | 3,1 (95% CI: 1,5–6,2) | Risiko diare meningkat >3 kali lipat bila air sumur positif E. coli. |
| Hansen et al. (2025) | Urban Indonesia | Rumah tangga dengan septic tank dekat sumur | 2,8 | Jarak septic tank & curah hujan berpengaruh pada kontaminasi E. coli. |
| Murei & Momba (2025) | Afrika Selatan | Konsumsi air permukaan & sumur | 2,5–4,0 | Air dengan E. coli O157:H7 meningkatkan risiko gastrointestinal. |
| Mills et al. (2025) | Jakarta & sekitarnya | Sumur dangkal di kawasan padat | ~3,0 | Sumur dangkal lebih rentan kontaminasi, meningkatkan risiko diare. |
Interpretasi
- Konsisten: Hampir semua studi menunjukkan OR > 2, artinya risiko diare dua kali lipat atau lebih bila air sumur positif E. coli.
- Variasi: Nilai OR berbeda tergantung kondisi lokal (kedalaman sumur, jarak septic tank, curah hujan, kepadatan penduduk).
- Implikasi kesehatan: Air dengan E. coli tidak layak dikonsumsi tanpa pengolahan (perebusan, klorinasi, atau filtrasi).
Referensi
- Novita Husnul Munawarah, Rizki Amalia, Achmad Husein, Siti Hani Istiqomah. (2022). Analisis Spasial Sebaran Kejadian Kasus Diare dengan Keberadaan E. Coli Pada Air Sumur dan Kepadatan Penduduk di Kalurahan Tirtonirmolo. Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol. 15 No. 2. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. DOI: https://doi.org/10.29238/sanitasi.v15i2.1384
- Hansen, P., Zahra, Z., Foster, T., Priadi, C., & Willetts, J. (2025). On-site sanitation systems and fecal contamination in shallow groundwater in urban Indonesia: assessing influence of distance and rainfall variables. Water Research, Vol. 287, Part B, 124431. Elsevier. DOI:
https://doi.org/10.1016/j.watres.2025.124431(doi.org in Bing) - Arinao Murei & Maggy Ndombo Benteke Momba. (2025). Identification, Comparison, and Profiling of Selected Diarrhoeagenic Pathogens from Diverse Water Sources and Human and Animal Faeces Using Whole-Genome Sequencing. Microorganisms, Vol. 13(6), 1373. MDPI. DOI: https://doi.org/10.3390/microorganisms13061373
- Mills, F., Maysarah, S., Priadi, C. R., Willetts, J., Evans, B., & Foster, T. (2025). Risk factors for well contamination in urban Indonesia: evidence to inform siting of wells and sanitation systems. Journal of Water and Health, 23(12), 1415–1429. IWA Publishing. DOI: https://doi.org/10.2166/wh.2025.036
Fenomena Sanitasi OK tapi E. coli positif - La Kok Iso ?
La Kok Iso ?
Air sumur gali bisa tetap positif E. coli meskipun secara fisik memenuhi syarat sanitasi karena kontaminasi mikrobiologis sering terjadi lewat faktor lingkungan yang tidak terlihat, seperti perembesan dari septic tank, kandang ternak, atau infiltrasi air hujan yang membawa kotoran ke dalam akuifer. Dengan kata lain, indikator sanitasi visual tidak selalu menjamin bebas bakteri, sebab E. coli adalah penanda pencemaran tinja yang dapat menyusup melalui jalur bawah tanah atau konstruksi sumur yang kurang rapat.
Mengapa E. coli Bisa Muncul Meski Sanitasi Sumur Memenuhi Syarat?
Perembesan septic tank
Walau jarak septic tank sudah sesuai standar, kondisi tanah berpasir atau permeabel dapat mempercepat migrasi bakteri ke air tanah. Penelitian menunjukkan jarak septic tank yang tidak ideal sangat berhubungan dengan keberadaan E. coli.Konstruksi sumur gali
Bibir sumur, dinding, dan lantai yang retak atau tidak diplester rapat memungkinkan air permukaan masuk. Air hujan yang membawa kotoran hewan atau limbah domestik bisa langsung merembes ke dalam sumur.Kedalaman air tanah
Air tanah dangkal lebih rentan tercemar. Studi di Indonesia menemukan bahwa sumur dengan kedalaman <2 m lebih sering positif E. coli dibanding sumur yang lebih dalam.Faktor lingkungan sekitar
Keberadaan kandang ternak, penumpukan sampah, atau aktivitas mencuci/mandi di dekat sumur meningkatkan risiko kontaminasi.Variabilitas musiman
Pada musim hujan, infiltrasi air permukaan lebih tinggi sehingga bakteri lebih mudah masuk ke akuifer.
Penjelasan Ilmiah
- E. coli sebagai indikator: Kehadiran E. coli menandakan adanya pencemaran tinja manusia atau hewan. Jika ditemukan, berarti ada potensi patogen lain (misalnya Salmonella, Shigella, atau virus enterik).
- Sanitasi fisik ≠ kualitas mikrobiologis: Inspeksi sanitasi hanya menilai aspek visual (jarak, konstruksi, kebersihan sekitar). Namun, bakteri dapat bergerak melalui pori tanah atau retakan yang tidak terlihat.
- Hydrogeologi berperan besar: Jenis tanah, arah aliran air tanah, dan kedalaman akuifer menentukan seberapa cepat bakteri berpindah dari sumber pencemar ke sumur gali.
Referensi
- Hardianti, I., Yustati, E., & Heriyanto, E. (2024). Analisis Faktor yang Mempengaruhi Keberadaan Bakteri Escherichia Coli Pada Sumur Gali. Jurnal Kesehatan Saelmakers PERDANA, Vol. 7 No. 2. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Al Ma’arif Baturaja.
https://doi.org/10.32524/jksp.v7i2.1253(doi.org in Bing) - Nur Azizah, Abdur Rivai, & Rasman. (2023). Faktor Yang Berhubungan Dengan Keberadaan Bakteri Escherichia Coli Pada Air Sumur Gali. Jurnal Sulolipu, Vol. 23 No. 2. Poltekkes Kemenkes Makassar. https://doi.org/10.32382/sulo.v23i2.71
- Gebby Hanesti Putri. (2025). Gambaran Tingkat Risiko Pencemaran dan Kualitas Bakteri Escherichia Coli Air Sumur Gali di RW 05 Kelurahan Pakan Labuh Kota Bukittinggi. Poltekkes Kemenkes Padang Repository. http://repositoryperpustakaanpoltekkespadang.site/id/eprint/2688
- Hansen, P., Zahra, Z., Foster, T., Priadi, C., & Willetts, J. (2026). Associations between sanitary inspection risk factors and E. coli contamination in household groundwater sources. Journal of Water, Sanitation and Hygiene for Development, 16(1), 36–44. IWA Publishing. https://doi.org/10.2166/washdev.2025.177
- Mills, F., Maysarah, S., Priadi, C. R., Willetts, J., Evans, B., & Foster, T. (2025). Risk factors for well contamination in urban Indonesia: evidence to inform siting of wells and sanitation systems. Journal of Water and Health, 23(12), 1415–1429. IWA Publishing. https://doi.org/10.2166/wh.2025.036
Rabu, 27 Mei 2026
Perbedaan karakteristik alkohol
Perbedaan karakteristik alkohol pada buah-buahan,
makanan fermentasi, minuman keras, medis, kosmetik, dan industri.
Tabel Perbandingan Karakteristik Alkohol Berdasarkan
Sumber/Kegunaan
|
Kategori |
Jenis Alkohol Utama |
Kadar Alkohol (Konsentrasi) |
Sumber/Bahan Dasar |
Karakteristik Utama |
Kehadiran Impuritas/Konturnan |
Tujuan Penggunaan |
|
Buah-buahan |
Etanol (alami) |
Sangat rendah (0,01–0,5%) |
Buah segar (jeruk, semangka, anggur) |
Terbentuk secara alami dari fermentasi gula buah oleh ragi
endogen |
Rendah; mengandung senyawa aroma buah (ester, aldehida) |
Tidak untuk konsumsi alkohol; lebih sebagai proses alami
pematangan |
|
Makanan Fermentasi |
Etanol |
Rendah–sedang (0,5–5%) |
Buah, biji-bijian, susu, sayur (kombucha, tempe, yogurt,
wine buah) |
Hasil fermentasi oleh khamir/bakteri; pH rendah;
mengandung asam organik |
Sedang; mengandung asam, ester, senyawa rasa khas
fermentasi |
Konsumsi makanan/minuman fermentasi (bukan untuk mabuk) |
|
Minuman Keras |
Etanol |
Tinggi (5–80%) |
Buah (wine, brandy), biji-bijian (whisky, bir), nira
(arak) |
Hasil fermentasi + destilasi (untuk minuman keras kuat);
raya rasa sesuai bahan |
Tinggi; mengandung congener (fusel oil, metanol, ester)
yang memberi rasa & aroma |
Konsumsi rekreasi (minuman beralkohol) |
|
Medis |
Etanol (farmakope) |
70–96% (biasanya 70% untuk disinfeksi) |
Sintetis atau fermentasi + pemurnian tinggi |
Kemurnian sangat tinggi (≥99,8% sebelum diencerkan); bebas
metanol & racun |
Sangat rendah; harus memenuhi standar farmakope (USP,
BPFF) |
Disinfeksi, antiseptik, ekstraksi herbal, pembawa obat |
|
Kosmetik |
Etanol (kosmetik grade) |
30–95% (tergantung produk) |
Sintetis atau fermentasi + pemurnian |
Murni, tidak berbau tajam, bebas senyawa beracun; kadang
ditambahkan denaturan ringan |
Rendah; harus aman untuk kulit, tidak iritatif |
Pelarut parfum, antiseptik kulit, pengawet, bahan dasar
lotion |
|
Industri |
Etanol metilasi (denatured) atau Etanol murni |
95–99,5% (etanol murni); 90–95% (metilasi) |
Sintetis (dari etena) atau fermentasi + destilasi |
Etanol industri sering didenaturasi (ditambah metanol,
piridin) agar tidak diminum |
Tinggi jika denatured; mengandung metanol, aseton, bahan
beracun lainnya |
Pelarut industri, bahan bakar, produksi kimia, pembersih,
ekstraksi non-makanan |
Catatan Penting:
|
Aspek |
Penjelasan |
|
Jenis Alkohol |
Hampir semua kategori menggunakan etanol (C₂H₅OH),
kecuali beberapa pelarut industri yang mungkin menggunakan metanol (CH₃OH)
atau isopropanol |
|
Metanol Berbahaya |
Minuman keras oplosan atau industri yang tidak murni dapat
mengandung metanol (racun, menyebabkan kebutaan/ kematian) |
|
Kemurnian |
Medis & kosmetik: kemurnian tinggi, bebas racun -
Industri: sering didenaturasi (tidak layak minum) - Buah/fermentasi: alami,
rendah alkohol |
|
Proses Produksi |
Buah/fermentasi: fermentasi alami - Minuman keras:
fermentasi + destilasi - Medis/kosmetik: fermentasi/ sintetis + pemurnian
tinggi - Industri: sintetis atau fermentasi + denaturasi |
Etanol dari buah-buahan dan makanan fermentasi memiliki
konsentrasi sangat rendah dan aman dikonsumsi sebagai bagian makanan, sedangkan
etanol medis/kosmetik harus sangat murni, dan etanol industri sering diberi zat
beracun agar tidak dikonsumsi.
Sumber:
Amanah, F., Andika, M. R., Hapsari, L. R., Pujiati, Wijayanti, D. A., & Rahayu, T. (2023). Analisis Kandungan Alkohol Pada Fermentasi Anaerob Semangka (Citrullus lanatus) dan Jeruk (Citrus sinensis) Menggunakan Fermipan. Urecol Journal. Part C: Health Sciences, 3(1), 35–40. https://doi.org/10.53017/ujhs.243
URL: https://www.e-journal.urecol.org/index.php/ujhs/article/download/243/249/568Wikipedia Bahasa Indonesia. (2005–2026). Alkohol. Wikipedia Ensiklopedia Bebas.
URL: https://id.wikipedia.org/wiki/AlkoholRahayu, S. & Kuswanto. (1978). Fermentasi dari Cairan Buah (Wine Buah). Dalam: Tinjauan Pustaka Fermentasi.
URL: https://adoc.pub/ii-tinjauan-pustaka-fermentasi-dari-cairan-buah-biasanya-cai.htmlKartikasari, E. & Nisa, K. (2014). Pembuatan Yoghurt Buah Sirsak. Jurnal Teknologi Pangan dan Farmasi.
URL: https://ejurnal.unisri.ac.id/index.php/jtpr/article/download/1989/1764Mulyani, S., Azizah, N., & Al-Barrii, A. N. (2012). Pengaruh Lama Fermentasi terhadap Kadar Alkohol, pH, dan Produksi Gas pada Proses Fermentasi Bioetanol dari Whey dengan Substitusi Kulit Nanas. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, 1(3).
URL: https://ojs3.unpatti.ac.id/index.php/biopendix/article/download/10604/6502/Suprihatin. (2010). Teknologi Fermentasi. Surabaya: UNESA Press.
(Dikutip dalam Amanah et al., 2023)Goutara, M. & Soesarsono. (1985). Gula sebagai Bahan Baku Alkohol dan Pencampur Obat-obatan.
(Dikutip dalam Tinjauan Pustaka Fermentasi)Buckle, K. A., Edwards, R. A., Fleet, G. H., & Wotton, M. (1987). Ilmu Pangan (Food Science). Jakarta: UI Press.
(Dikutip dalam Rahayu, 1987 - Saccharomyces cerevisiae dalam produksi minuman beralkohol)