Rabu, 27 Mei 2026

Perbedaan karakteristik alkohol

 

Perbedaan karakteristik alkohol pada buah-buahan, makanan fermentasi, minuman keras, medis, kosmetik, dan industri.

Tabel Perbandingan Karakteristik Alkohol Berdasarkan Sumber/Kegunaan

Kategori

Jenis Alkohol Utama

Kadar Alkohol (Konsentrasi)

Sumber/Bahan Dasar

Karakteristik Utama

Kehadiran Impuritas/Konturnan

Tujuan Penggunaan

Buah-buahan

Etanol (alami)

Sangat rendah (0,01–0,5%) 

Buah segar (jeruk, semangka, anggur)

Terbentuk secara alami dari fermentasi gula buah oleh ragi endogen

Rendah; mengandung senyawa aroma buah (ester, aldehida)

Tidak untuk konsumsi alkohol; lebih sebagai proses alami pematangan

Makanan Fermentasi

Etanol

Rendah–sedang (0,5–5%)

Buah, biji-bijian, susu, sayur (kombucha, tempe, yogurt, wine buah)

Hasil fermentasi oleh khamir/bakteri; pH rendah; mengandung asam organik

Sedang; mengandung asam, ester, senyawa rasa khas fermentasi

Konsumsi makanan/minuman fermentasi (bukan untuk mabuk)

Minuman Keras

Etanol

Tinggi (5–80%)

Buah (wine, brandy), biji-bijian (whisky, bir), nira (arak)

Hasil fermentasi + destilasi (untuk minuman keras kuat); raya rasa sesuai bahan

Tinggi; mengandung congener (fusel oil, metanol, ester) yang memberi rasa & aroma

Konsumsi rekreasi (minuman beralkohol)

Medis

Etanol (farmakope)

70–96% (biasanya 70% untuk disinfeksi)

Sintetis atau fermentasi + pemurnian tinggi

Kemurnian sangat tinggi (≥99,8% sebelum diencerkan); bebas metanol & racun

Sangat rendah; harus memenuhi standar farmakope (USP, BPFF)

Disinfeksi, antiseptik, ekstraksi herbal, pembawa obat

Kosmetik

Etanol (kosmetik grade)

30–95% (tergantung produk)

Sintetis atau fermentasi + pemurnian

Murni, tidak berbau tajam, bebas senyawa beracun; kadang ditambahkan denaturan ringan

Rendah; harus aman untuk kulit, tidak iritatif

Pelarut parfum, antiseptik kulit, pengawet, bahan dasar lotion

Industri

Etanol metilasi (denatured) atau Etanol murni

95–99,5% (etanol murni); 90–95% (metilasi)

Sintetis (dari etena) atau fermentasi + destilasi

Etanol industri sering didenaturasi (ditambah metanol, piridin) agar tidak diminum

Tinggi jika denatured; mengandung metanol, aseton, bahan beracun lainnya

Pelarut industri, bahan bakar, produksi kimia, pembersih, ekstraksi non-makanan

 

Catatan Penting:

Aspek

Penjelasan

Jenis Alkohol

Hampir semua kategori menggunakan etanol (C₂H₅OH), kecuali beberapa pelarut industri yang mungkin menggunakan metanol (CH₃OH) atau isopropanol

Metanol Berbahaya

Minuman keras oplosan atau industri yang tidak murni dapat mengandung metanol (racun, menyebabkan kebutaan/ kematian)

Kemurnian

Medis & kosmetik: kemurnian tinggi, bebas racun - Industri: sering didenaturasi (tidak layak minum) - Buah/fermentasi: alami, rendah alkohol

Proses Produksi

Buah/fermentasi: fermentasi alami - Minuman keras: fermentasi + destilasi - Medis/kosmetik: fermentasi/ sintetis + pemurnian tinggi - Industri: sintetis atau fermentasi + denaturasi

Etanol dari buah-buahan dan makanan fermentasi memiliki konsentrasi sangat rendah dan aman dikonsumsi sebagai bagian makanan, sedangkan etanol medis/kosmetik harus sangat murni, dan etanol industri sering diberi zat beracun agar tidak dikonsumsi.

 

Sumber: 

  1. Amanah, F., Andika, M. R., Hapsari, L. R., Pujiati, Wijayanti, D. A., & Rahayu, T. (2023). Analisis Kandungan Alkohol Pada Fermentasi Anaerob Semangka (Citrullus lanatus) dan Jeruk (Citrus sinensis) Menggunakan FermipanUrecol Journal. Part C: Health Sciences, 3(1), 35–40. https://doi.org/10.53017/ujhs.243
    URL: https://www.e-journal.urecol.org/index.php/ujhs/article/download/243/249/568 

  2. Wikipedia Bahasa Indonesia. (2005–2026). AlkoholWikipedia Ensiklopedia Bebas.
    URL: https://id.wikipedia.org/wiki/Alkohol

  3. Rahayu, S. & Kuswanto. (1978). Fermentasi dari Cairan Buah (Wine Buah). Dalam: Tinjauan Pustaka Fermentasi.
    URL: https://adoc.pub/ii-tinjauan-pustaka-fermentasi-dari-cairan-buah-biasanya-cai.html

  4. Kartikasari, E. & Nisa, K. (2014). Pembuatan Yoghurt Buah SirsakJurnal Teknologi Pangan dan Farmasi.
    URL: https://ejurnal.unisri.ac.id/index.php/jtpr/article/download/1989/1764

  5. Mulyani, S., Azizah, N., & Al-Barrii, A. N. (2012). Pengaruh Lama Fermentasi terhadap Kadar Alkohol, pH, dan Produksi Gas pada Proses Fermentasi Bioetanol dari Whey dengan Substitusi Kulit NanasJurnal Aplikasi Teknologi Pangan, 1(3).
    URL: https://ojs3.unpatti.ac.id/index.php/biopendix/article/download/10604/6502/

  6. Suprihatin. (2010). Teknologi Fermentasi. Surabaya: UNESA Press.
    (Dikutip dalam Amanah et al., 2023)

  7. Goutara, M. & Soesarsono. (1985). Gula sebagai Bahan Baku Alkohol dan Pencampur Obat-obatan.
    (Dikutip dalam Tinjauan Pustaka Fermentasi)

  8. Buckle, K. A., Edwards, R. A., Fleet, G. H., & Wotton, M. (1987). Ilmu Pangan (Food Science). Jakarta: UI Press.
    (Dikutip dalam Rahayu, 1987 - Saccharomyces cerevisiae dalam produksi minuman beralkohol)

Selasa, 26 Mei 2026

Deposisi Atmosferik Mikro-Nanoplastik dan Pencemaran Air Minum dalam Gelas Terbuka

 

dibuat dg Perplexity AI

Deposisi Atmosferik Mikro-Nanoplastik dan Pencemaran Air Minum dalam Gelas Terbuka


1. Mekanisme Deposisi Atmosferik Mikro-Nanoplastik

Deposisi atmosferik adalah proses jatuhnya partikel mikroplastik (MP, 1 μm–5 mm) dan nanoplastik (NP, <1 μm) dari atmosfer ke permukaan bumi melalui dua mekanisme:

Jenis Deposisi

Mekanisme

Karakteristik

Deposisi Kering

Gravitasi, impaksi, difusi

Partikel mengendap tanpa curah hujan, dominan untuk partikel >10 μm 

Deposisi Basah

Terporta ke awan, turun bersama hujan/salju

"Hujan mikroplastik", efektif untuk partikel kecil 1–10 μm 

Proses lengkap:

  1. Peluncuran ke atmosfer: Abrasi ban kendaraan, serat tekstil sintetis, pembakaran sampah, degradasi plastik di darat
  2. Transportasi: Partikel melayang di atmosfer, terbawa angin, masuk ke awan
  3. Pengendapan: Turun kembali ke bumi bersama hujan atau mengendap secara kering

2. Estimasi Kadar Mikroplastik di Udara

Konsentrasi di Udara (Ambien):

Lokasi

Konsentrasi

Metode

Bandung (urban)

0,3–0,6 partikel/m³

TSP, fiber mikroplastik digilib.itb.ac

Bandung (suburban)

0,1–0,3 partikel/m³

TSP digilib.itb.ac

IPST Sabuga (TPS)

4,22–6,95 MP/m³

Fasilitas pengolahan sampah digilib.itb.ac

Jakarta Pusat

37 partikel/9 cm²/2 jam

Deposisi, tertinggi di Indonesia news.detik

Malang

2 partikel/9 cm²/2 jam

Terendah (vegetasi dominan) news.detik

Laju Deposisi Atmosferik:

Lokasi/Situasi

Laju Deposisi

Keterangan

Rata-rata global

~15 partikel/m²/hari

Hujan

Jakarta (musim hujan)

>23 partikel/m²/hari

53% lebih tinggi dari rata-rata global

Las Vegas (urban)

263,6–944,6 MP/m²/hari

23× lebih tinggi dari global

Tempat makan/minum

hingga 10⁵ items/m²/hari

90% berukuran <100 μm 


3. Potensi Pencemaran Air Minum dalam Gelas Terbuka

Perhitungan Estimasi:

Asumsi:

  • Diameter gelas: 7 cm (luas permukaan = Ï€ × 3,5² = 38,5 cm² = 0,00385 m²)
  • Waktu paparan: 2 jam (durasi minum)
  • Lokasi: Jakarta (deposisi 37 partikel/9 cm²/2 jam = 4,11 partikel/cm²/2 jam)

Perhitungan:



Untuk lokasi dengan deposisi lebih rendah (Malang = 2 partikel/9 cm²/2 jam):



Kondisi indoor vs outdoor:

  • Studi menunjukkan paparan indoor 2-3× lebih tinggi daripada outdoor
  • Jika di dalam ruangan: bisa mencapai 160–500 partikel/2 jam untuk Jakarta

Perbandingan dengan Paparan Lain:

Jalur Paparan

Jumlah Partikel/Tahun

Deposisi atmosferik pada makanan/minuman

1,9 × 10⁵ – 1,3 × 10⁶ pubmed.ncbi.nlm.nih

Inhalasi (perkiraan)

Sebanding dengan deposisi pubmed.ncbi.nlm.nih

Ingesti langsung dari makanan

2–3 orders of magnitude lebih rendah pubmed.ncbi.nlm.nih


4. Kesimpulan & Rekomendasi Mitigasi

Parameter

Estimasi

Kadar MP udara (Indonesia)

0,3–6,95 partikel/m³ (tergantung lokasi) 

Laju deposisi (Jakarta)

>23 partikel/m²/hari (musim hujan) medcom

MP jatuh ke gelas 200 mL (2 jam)

8–160 partikel (outdoor); hingga 500 partikel (indoor)

Strategi mitigasi sederhana:

  1. Tutup gelas saat tidak diminum (mengurangi 90%+ paparan)
  2. Bilas wadah sebelum digunakan
  3. Hindari minum di area dengan aktivitas tinggi/traffic padat
  4. Prioritaskan indoor dining dengan filtrasi udara

Temuan ini menunjukkan bahwa deposisi atmosferik merupakan jalur paparan mikroplastik yang signifikan, setara dengan inhalasi dan 100–1000× lebih besar daripada ingest langsung dari makanan.pubmed.ncbi.nlm.nih


Sumber:
  1. Allen, S., Allen, D., Phoenix, V. R., Le Roux, G., Durantez, P., Simonneau, A., Stephane, B., & Galop, D. (2019). Atmospheric transport and deposition of microplastics in a remote mountain catchmentNature Geoscience.

  2. Ayenew, T., et al. (2022). Microplastic ingestion from atmospheric deposition during dining/drinking activitiesEnvironmental Pollution. URL: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35299106/

  3. Purwiyanto, A. I. S. (2023). Dinamika dan Emisi Mikroplastik di Teluk JakartaRepository IPB / Disertasi. URL: https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/116471

  4. Anonim / Tim penyusun (tanpa tahun pada file PDF). Mikroplastik di LingkunganUniversitas Ahmad Dahlan / Eprints UAD. URL: https://eprints.uad.ac.id/74629/2/Buku%20Digital%20-%20MIKROPLASTIK%20DI%20LINGKUNGAN.pdf

  5. Izza, N., Daniel, D., & Nastiti, A. (2025). Identifikasi mikroplastik pada air minum dalam kemasan (AMDK) bermerekTugas akhir / repository universitas. URL: https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/262121

  6. Ikhram, M., Fitrada, W., & Riyandini, V. L. (2024). Analisis mikroplastik pada air minum dalam kemasan di Kota PadangJurnal Metana, Universitas Diponegoro. URL: https://ejournal.undip.ac.id/index.php/metana/article/view/62832/0

  7. BMKG / Dwi et al. (2025). BMKG jelaskan asal-usul mikroplastik cemari air hujan JakartaDetik News. URL: https://news.detik.com/berita/d-8176485/bmkg-jelaskan-asal-usul-mikroplastik-cemari-air-hujan-jakarta

  8. Medcom (2025). Turun bersama hujan, dari mana asal mikroplastik di udara? Medcom.id. URL: https://www.medcom.id/pendidikan/riset-penelitian/4KZwyPgN-turun-bersama-hujan-dari-mana-asal-mikroplastik-di-udara