Bagaimana mungkin seorang pemimpin yang mengawali langkahnya dengan romansa sukarelawan organik di tahun 2014, menapaki perjalanannya di tahun 2026 dalam kepungan "patah hati politik" massal?
Selama dua belas tahun, ruang siber Indonesia bukan sekadar merekam
kebijakan politik, melainkan menjelma menjadi laboratorium polarisasi ekstrem
yang melelahkan. Di satu kutub, kelompok "Lovers" merawat
heroisme wong cilik hingga batas kultus individu tanpa cela. Di kutub
seberang, kelompok "Haters" membakar linimasa dengan tabungan
resentimen teologis dan kecemasan kultural yang terstruktur.
Ditulis dengan pisau analisis sosiologi siber (digital sociology)
yang tajam namun disajikan dengan gaya populer yang mengalir, buku ini membedah
anatomi pertempuran digital kita. Mulai dari pelembagaan industri pasukan siber
(buzzer), tragedi linguistik "Cebong vs Kampret" pada Pilpres
2019, dominasi populisme estetik di TikTok, hingga lahirnya faksi "Haters
Baru"—mantan loyalis garis depan yang berbalik arah akibat patah hati oleh
politik dinasti.
Buku ini bukan sekadar biografi tentang Joko Widodo. Ini adalah cermin
retak bagi kita semua: sebuah potret tentang bagaimana jempol mendahului
logika, bagaimana algoritma media sosial mendikte emosi warga, dan bagaimana
demokrasi kita dipertaruhkan dari balik layar gawai.
"Sebuah
catatan sosiologis yang sangat jernih dan berani. Buku wajib bagi siapa saja
yang ingin memahami mengapa kita begitu mudah mencintai sekaligus membenci di
era algoritma."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar