Senin, 10 Agustus 2026

RISIKO PENYIMPANGAN PARAMETER BAKU MUTU AIR

 

RISIKO PENYIMPANGAN PARAMETER BAKU MUTU AIR


No

Parameter

Risiko/Bahaya Penyimpangan

1

Suhu

Menurunkan kenyamanan, meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme, menurunkan efektivitas desinfeksi.

2

Warna

Menunjukkan adanya bahan organik, logam, atau pencemar lain; menurunkan penerimaan masyarakat terhadap air minum.

3

Bau

Mengindikasikan kontaminasi biologis, bahan organik, H₂S, fenol, atau senyawa kimia lainnya.

4

Rasa

Menunjukkan adanya mineral, logam, garam, atau senyawa organik tertentu yang dapat mengurangi kelayakan konsumsi.

5

Kekeruhan (Turbidity)

Menghambat proses desinfeksi, melindungi mikroorganisme patogen, meningkatkan risiko penyakit bawaan air.

6

Total Dissolved Solids (TDS)

Menurunkan cita rasa air, menyebabkan kerak pada peralatan, mengindikasikan tingginya kandungan mineral terlarut.

7

pH

Menyebabkan korosi atau pembentukan kerak; meningkatkan kelarutan logam berat; menurunkan efektivitas klorinasi.

8

Kesadahan

Menimbulkan kerak pada pipa dan peralatan, mengurangi efektivitas sabun, menurunkan kenyamanan penggunaan air.

9

Alkalinitas

Mengganggu proses koagulasi dan stabilitas pH dalam sistem pengolahan air.

10

Besi (Fe)

Menimbulkan warna kecoklatan, rasa logam, noda pada pakaian, mendukung pertumbuhan bakteri besi.

11

Mangan (Mn)

Gangguan neurologis akibat pajanan kronis, perubahan warna air, pembentukan endapan pada jaringan distribusi.

12

Aluminium (Al)

Diduga berhubungan dengan gangguan neurologis pada pajanan jangka panjang serta mengganggu estetika air.

13

Tembaga (Cu)

Mual, muntah, nyeri perut, gangguan hati pada konsentrasi tinggi, rasa logam.

14

Seng (Zn)

Menyebabkan rasa logam, gangguan saluran pencernaan pada kadar tinggi.

15

Natrium (Na)

Tidak dianjurkan bagi penderita hipertensi atau penyakit ginjal apabila kadarnya sangat tinggi.

16

Klorida (Cl⁻)

Menyebabkan rasa asin, mempercepat korosi jaringan perpipaan.

17

Sulfat (SO₄²⁻)

Bersifat laksatif pada kadar tinggi sehingga menyebabkan diare, terutama pada anak-anak.

18

Nitrat (NO₃⁻)

Menyebabkan methemoglobinemia (Blue Baby Syndrome) pada bayi dan berpotensi membentuk senyawa N-nitroso yang bersifat karsinogenik.

19

Nitrit (NO₂⁻)

Mengganggu kemampuan darah mengangkut oksigen, menyebabkan methemoglobinemia.

20

Amonia (NH₃)

Menurunkan kualitas organoleptik air, mengindikasikan pencemaran limbah domestik, mengurangi efektivitas desinfeksi.

21

Fluorida (F⁻)

Fluorosis gigi dan tulang pada pajanan kronis; kadar terlalu rendah meningkatkan risiko karies gigi.

22

Sianida (CN⁻)

Sangat toksik, menghambat respirasi sel, menyebabkan kematian pada pajanan akut.

23

Arsen (As)

Karsinogen; menyebabkan kanker kulit, paru, kandung kemih, penyakit kardiovaskular, diabetes, dan kelainan kulit.

24

Timbal (Pb)

Gangguan perkembangan otak anak, penurunan IQ, anemia, hipertensi, gangguan ginjal dan reproduksi.

25

Merkuri (Hg)

Kerusakan sistem saraf pusat, gangguan perkembangan janin, gangguan ginjal.

26

Kadmium (Cd)

Kerusakan ginjal, osteoporosis, gangguan hati, bersifat karsinogenik pada pajanan kronis.

27

Kromium (Cr VI)

Bersifat karsinogenik, menyebabkan iritasi kulit, gangguan ginjal dan hati.

28

Selenium (Se)

Selenosis, rambut rontok, kelainan kuku, gangguan saraf.

29

Nikel (Ni)

Reaksi alergi kulit, gangguan ginjal, kemungkinan bersifat karsinogenik.

30

Antimon (Sb)

Gangguan saluran cerna, iritasi kulit dan mata, efek kronis pada hati.

31

Barium (Ba)

Gangguan otot, jantung, dan sistem saraf pada kadar tinggi.

32

Boron (B)

Gangguan reproduksi dan perkembangan pada pajanan kronis dosis tinggi.

33

Pestisida Organoklorin

Bersifat persisten, bioakumulatif, mengganggu sistem saraf dan endokrin, beberapa bersifat karsinogenik.

34

Pestisida Organofosfat

Menghambat enzim asetilkolinesterase sehingga menyebabkan gangguan saraf akut.

35

Karbamat

Gangguan sistem saraf akibat penghambatan kolinesterase, umumnya bersifat reversibel.

36

Herbisida (misalnya Atrazin)

Diduga mengganggu sistem endokrin dan reproduksi pada pajanan kronis.

37

Benzena

Karsinogen; menyebabkan leukemia dan gangguan sumsum tulang.

38

Toluena

Gangguan sistem saraf pusat, sakit kepala, gangguan fungsi hati dan ginjal.

39

Xilena

Iritasi saluran napas, gangguan saraf pusat, pusing dan mual.

40

Fenol

Menyebabkan bau dan rasa tidak sedap, iritasi kulit, hati, dan ginjal.

41

Detergen (MBAS)

Menyebabkan busa, mengganggu estetika air, toksik bagi organisme akuatik.

42

Trihalometana (THMs)

Meningkatkan risiko kanker kandung kemih dan gangguan reproduksi pada pajanan jangka panjang.

43

Senyawa Organik Volatil (VOC)

Beberapa bersifat toksik, neurotoksik, hepatotoksik, bahkan karsinogenik.

44

PFAS

Bersifat persisten; dikaitkan dengan gangguan imun, tiroid, reproduksi, serta kanker ginjal dan testis.

45

Mikroplastik

Berpotensi menyebabkan inflamasi, stres oksidatif, membawa logam berat dan mikroorganisme patogen.

46

Nanoplastik

Berpotensi menembus membran sel, memicu stres oksidatif, inflamasi, dan kerusakan jaringan.

47

Escherichia coli

Indikator pencemaran tinja; menyebabkan diare, disentri, gastroenteritis, dan infeksi saluran cerna.

48

Total Koliform

Menunjukkan kemungkinan kontaminasi mikrobiologi dan kegagalan sistem sanitasi atau desinfeksi.

49

Enterokokus

Mengindikasikan pencemaran fekal; dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dan infeksi oportunistik.

50

Clostridium perfringens

Menunjukkan pencemaran fekal lama; menyebabkan keracunan makanan dan infeksi jaringan.

51

Virus Enterik

Menyebabkan hepatitis A, hepatitis E, gastroenteritis, poliomielitis, dan penyakit virus lainnya.

52

Giardia lamblia

Menyebabkan giardiasis dengan gejala diare kronis dan malabsorpsi.

53

Cryptosporidium

Menyebabkan diare berat terutama pada individu imunokompromais; resisten terhadap klorin.

54

Radon

Meningkatkan risiko kanker paru melalui inhalasi dan kemungkinan kanker lambung melalui konsumsi.

55

Uranium

Bersifat nefrotoksik dan memberikan paparan radioaktif kronis.

56

Aktivitas Alfa Total

Mengindikasikan keberadaan radionuklida alfa yang dapat meningkatkan risiko kanker.

57

Aktivitas Beta Total

Mengindikasikan keberadaan radionuklida beta yang meningkatkan risiko paparan radiasi internal.

58

Sisa Klor Bebas Terlalu Rendah

Desinfeksi tidak efektif sehingga meningkatkan risiko penyakit bawaan air.

59

Sisa Klor Bebas Terlalu Tinggi

Menyebabkan iritasi mata, kulit, saluran napas, rasa dan bau yang tidak disukai serta meningkatkan pembentukan produk samping desinfeksi.

60

Total Organic Carbon (TOC)

Meningkatkan pembentukan produk samping desinfeksi seperti trihalometana dan haloasetat.

61

 TSS (par fisik)                 


62

Radio aktivitas (par fisik)



63

Mikro/Nanoplastik (par fisik)



64

 DHL (par fisik)                 


Keterangan

  1. Risiko kesehatan dipengaruhi oleh konsentrasi, lama pajanan, frekuensi pajanan, jalur pajanan, usia, status gizi, berat badan, serta kerentanan individu.
  2. Tidak semua penyimpangan parameter akan langsung menimbulkan penyakit. Penilaian dampak kesehatan dilakukan menggunakan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) melalui perhitungan Chronic Daily Intake (CDI), Hazard Quotient (HQ), Hazard Index (HI), dan Excess Cancer Risk (ECR).
  3. Kelompok rentan yang memerlukan perhatian khusus meliputi bayi, balita, ibu hamil, lansia, penderita penyakit kronis, dan individu dengan sistem imun yang lemah.
  4. Prioritas pengendalian sebaiknya diberikan pada parameter yang bersifat karsinogenik, neurotoksik, nefrotoksik, mutagenik, teratogenik, atau memiliki nilai Hazard Quotient (HQ) > 1 berdasarkan hasil ARKL.
  5. Interpretasi hasil pemantauan harus mengacu pada regulasi nasional yang berlaku dan pedoman internasional seperti WHO Guidelines for Drinking-water Quality, US EPA National Primary Drinking Water Regulations, serta hasil kajian toksikologi terbaru.

Tidak ada komentar: